Menu

Gelar Budaya Indonesia - Peringatan Hari Kartini 2010

Peserta peragaan busanaTaipei, kdei-taipei.org - Dalam rangka memperingati hari Kartini 2010, pada tanggal 18 April 2010 Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia di Taipei mengadakan berbagai kegiatan bagi  WNI yang berada di Taiwan, khususnya bagi kaum hawa. Perlombaan yang diselenggarakan berupa pagelaran busana wanita dan lomba memasak. Peringatan hari Kartini berupa perlombaan peragaan busana wanita dan lomba memasak ini merupakan yang pertama kali diadakan di Taipei. Kegiatan tersebut bertempat didepan kantor APIT (Taipei Main Station). Meskipun cuaca sedikit tidak bersahabat bagi pelaksanaan acara, antusiasme peserta dan pengunjung yang datang untuk meramaikan acara sangat besar.

Acara yang berlangsung dari pukul 12.00 hingga pukul 17.00 tersebut dibuka dengan hiburan bagi pengunjung yang hadir. Dalam kesempatan tersebut hadir Direktur Divisi II BLA Taipei City (Bureau of Labor Affairs) Mrs. Wu, dalam kesempatan tersebut Mrs. Wu menyampaikan apresiasinya kepada pemerintah Indonesia (KDEI) dalam membina WNI di Taiwan. Beliau juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada KDEI atas pembetukan konseling-konseling bagi tenaga kerja Indonesia di Taiwan. Pada kesempatan yang sama, Bapak Suhartono dalam sambutannya menyampaikan kepada seluruh pengunjung yang hadir untuk tetap menjaga kebersamaan, sebagai satu kesatuan bangsa Indonesia. Peringatan hari Kartini ini tidak hanya dalam pertunjukan dan perlombaan saja, tetapi harus diresapi dan diterapkan dalam kehidupan. Bagaimana seorang Kartini dapat menjadi inspirasi bagi kaum hawa dalam menjalani kehidupannya, itulah yang patut kita jadikan tauladan bersama. Bapak Suhartono juga menyampaikan terima kasih atas kerjasama untuk menyukseskan acara ini kepada BLA Taipei City, Kepolisian Taipei City dan APIT serta pihak sponsor lainnya.

Read more...

Tenaga Kerja Indonesia di Taiwan Terbaik dari Asia

  • Published in Berita

Taipei (ANTARA News) - Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Taiwan berkinerja lebih bagus dibanding pekerja dari negara-negara Asia lainnya yakni dari Malaysia, Filipina, Thailand, Vietnam, dan Mongolia.

"Mereka berkinerja bagus dan sampai sejauh ini relatif tidak ada masalah yang cukup berarti," kata Direktur Jenderal Biro Tenaga Kerja dari Dewan Urusan Pekerja (CLA) Taiwan, Lin San-Quei dalam perbincangan mengenai TKI dengan Dirut ANTARA Ahmad Mukhlis Yusuf di Taipei, Selasa.

Dirut ANTARA yang didampingi Koordinator Staf Ahli ANTARA Aat Surya Safaat berada di Taipei dalam rangka melihat perkembangan informasi teknologi serta keberadaan TKI di Taiwan sambil berkomitmen untuk turut mendorong adanya peningkatan hubungan ekonomi dan perdagangan serta sosial budaya Indonesia-Taiwan.

Lin lebih lanjut menjelaskan, jumlah TKI di Taiwan adalah yang terbanyak dibanding pekerja yang berasal dari negara-negara Asia lainnya.

Urutan selanjutnya adalah pekerja dari Vietnam, Filipina, Thailand, Malaysia, dan Mongolia. Mereka bekerja di sektor manufaktur, konstruksi, anak buah kapal (ABK) di kapal perikanan, pengasuh orang-orang lanjut usia, dan pembantu rumah tangga.

"Jumlah mereka setiap tahun selalu meningkat," ujarnya, sambil menambahkan dari 355.136 pekerja asing di Taiwan yang tercatat per Februari 2010, maka TKI mencapai 40,26 persen atau 142.983 orang, sedangkan bulan sebelumnya (Januari) mencapai 128,584 orang atau 36,15 persen.

Lin menyebutkan keberadaan TKI jelas turut memberi andil bagi kemajuan ekonomi Taiwan. Mereka terbanyak bekerja sebagai pengasuh orang lanjut usia. Urutan selanjutnya adalah berkerja di sektor manufaktur, ABK, pembantu rumah tangga, dan konstruksi.

Read more...

Radar Taiwan : Mengintip Pertanian Modern Taiwan

  • Published in Berita

Hamparan sawah seluas satu hektar, hanya memerlukan waktu tiga jam dalam menanam padi, jika menggunakan mesin tanam padi seperti yang ada di Taiwan. Dengan pola tanam tersebut tentu dapat menghemat tenaga kerja, waktu serta yang menggiurkan adalah hasil panen yang memuaskan.Per hektar mampu menghasilkan 12 ton gabah.

Sistem pertanian modern di Taiwan, agaknya menjadi daya tarik bagi Kepala KDEI Taipei.Sehingga walau harus menempuh perjalanan sekitar 3 jam antara Taipei Changhua, bapak dua putra ini tetap semangat mengikuti arahan dari konsultan teknik Chang Kuo-An saat mengunjungi para petani Taiwan beberapa waktu lalu.

Dalam paparannya Mr. Chang menjelaskan, jika pertanian di Taiwan sistem menanam padi sangat jauh dengan sistem yang ada di Indonesia.Jika petani Indonesia dari bibit di semai dihamparan persemaian. Setelah persemaian tumbuh dengan memakan waktu kira-kira 15 hari barulah bibit padi di cabut(di daut) dari persemaian. Setelah itu padi baru di tanam diatas lahan. Dalam satu hektar cara penanaman ini memerlukan waktu seminggu dan membutuhkan tenaga kerja sekitar empat atau lima orang.

Menurut  Mr. Chang, jika sistem tanam seperti petani di Indonesia yang di jelaskan diatas, tentu ada beberapa kekurangannya. Diantaranya, bibit padi yang telah tumbuh di media semai, lantas di cabut lagi lalu di tanam di lahan sawah, tentu akan kurang bagus hasilnya. Karena padi yang di cabut akan stress dan untuk pulih memerlukan waktu seminggu. Induknya sudah tumbuh, anakannya baru tumbuh seminggu lagi. Selanjutnya bibit yang di cabut akar-akarnya akan tertinggal di lahan persemaian kira-kira bisa 40 persennya. Jadi ada 40 persen bibit yang hilang.Hal ini tentu akan mempengaruhi hasil produksi.

Read more...
Subscribe to this RSS feed

TAUTAN LAIN

Kontak Kami

6F, No. 550, Rui Guang Road, Neihu District, Taipei, 114, Taiwan, ROC
Phone : (02) 87526170
Fax : (02) 87523706

Email: ieto[at]ms8.hinet.net

Our website is protected by DMC Firewall!