Menu

Perindustrian (17)

Second Indonesia-Taiwan Steel Dialogue

Indonesia dan Taiwan untuk kedua kalinya menyelenggarakan diskusi mengenai roadmap kebijakan industri baja masing-masing, informasi pasar, serta kemungkinan akses pasar, kerjasama industri, dan peluang investasi di antara keduanya. Forum diskusi ini disertai dengan kunjungan ke beberapa perusahaan baja di Taiwan (China Steel Corporation, China Steel Machinery Corporation, Chun Yu, Dragon Steel, dan Chung Hung) yang dikemas dalam rangkaian acara 2nd Indonesia-Taiwan Steel Dialogue yang diselenggarakan pada tanggal 27-28 September 2018 di kantor pusat China Steel Corporation (CSC) di Kaohsiung, Taiwan.

Hadir pada acara ini Deputy Director General Bureau of Foreign Trade, Ministry of Economic Affairs, Mr. G.J. Lee, selaku Chairman dari pihak Taiwan, Kepala Taipei Economic and Trade Office (TETO) Jakarta, Mr. John C. Chen, Chairman Taiwan Steel & Iron Industries Association (TSIIA) serta anggota TSIIA, perwakilan Chinese National Federation of Industries (CNFI), perwakilan Metal Industrial Research and Development Center (MIRDC), China Steel Corporation Group, Chung Hung Steel, Chun Yu Works, Yieh Group, Synn Industrial, dan Tention Steel Industries. 

Sementara itu delegasi dari pihak Indonesia dipimpin oleh Direktur Jenderal KPAII Kemenperin, Bapak I Gusti Putu Suryawirawan, Kepala KDEI Taipei, Bapak Didi Sumedi beserta staf, Direktur Industri Logam (Co-Chairman) beserta staf, Direktur Ketahanan Industri beserta staf, perwakilan Puskaji IUI, BPPI, Direktur Eksekutif Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA), Direksi PT. Moon Lion, Direksi PT. Steelforce Indonesia, dan perwakilan PT. Dwijaya Sentosa Abadi.

Pada pembukaan, Chairman pihak Indonesia menyampaikan bahwa tujuan utama steel dialogue kali ini adalah untuk 3 kelompok industri: (1) jaminan kontinuitas bahan baku bagi industri yang telah ada di Indonesia, (2) penyediaan bahan baku bagi industri yang akan melakukan perluasan , dan (3) penumbuhan investasi industri baru asal Taiwan.

Pembahasan pada Sesi 1, Current Development of Taiwan and Indonesia Economy, Steel Industry and Steel Market, pihak Taiwan menyampaikan bahwa Indonesia berada di urutan ke-13 sebagai negara tujuan ekspor baja terbesar Taiwan dengan nilai 142 juta USD dengan volume ekspor sebesar 210.566 ton pada tahun 2017. Sementara itu Indonesia berada di urutan ke-11 sebagai negara asal impor Taiwan dengan produk utama yaitu Stainless Steel Hot Rolled yang pada tahun 2017, nilai impornya mencapai 57,48 juta USD dengan volume sebesar 32.367 ton dan diperkirakan meningkat pesat pada tahun 2018 menjadi sebesar 355,91 juta USD dengan volume sebesar 186.767 ton. 

Konsumsi domestik produk baja di Taiwan juga telah mencapai tingkat jenuh/stagnan sehingga diperkirakan tidak akan ada penambahan kapasitas Blast Furnace dalam rencana ke depan. Taiwan hanya berencana memperbaharui teknologi peleburan lama mengingat overcapacity di industri baja telah menjadi isu utama dunia.

Sementara itu pihak Indonesia menyampaikan bahwa kondisi baja nasional masih mengalami tekanan akibat banyaknya impor produk baja hulu dan hilir dengan nilai impor tahun 2017 sebesar 14 juta ton. Secara umum, Indonesia masih memerlukan investasi di sektor baja terutama untuk produk Slab, Billet, HRC, CRC, Rod, Bar, Section, Galvanis, BjLS, dan BjLAS. Selain itu, Indonesia juga telah memiliki Road Map pengembangan kapasitas industri baja dengan target kapasitas sebesar 17 juta ton untuk tahun 2020 – 2024 dan 25 juta ton untuk tahun 2025 – 2035. Untuk mendukung tumbuhnya investasi di sektor industri baja, pemerintah menyiapkan insentif investasi berupa Tax Holiday dan Tax Allowance serta insentif bahan baku berupa Master List dan BMDTP.

Pada pembahasan Sesi 2, Mutual Interest or Specific Concern, pihak Taiwan menyampaikan permintaan mengenai adanya solusi terhadap tingginya tarif bea masuk/MFN produk baja terutama untuk produk intermediate yaitu HRC dan CRC serta penyelesaian pemberlakuan safeguard BjLAS yang telah diputuskan WTO untuk dicabut. Terhadap permasalahan ini, pihak Indonesia menyampaikan bahwa MFN merupakan salah satu insentif untuk mendorong tumbuhnya investasi produk tersebut di Indonesia serta untuk melindungi industri yang telah ada. Terdapat beberapa skema yang dapat dimanfaatkan oleh pihak Taiwan untuk mendapatkan tarif bea masuk yang lebih rendah dari MFN terutama untuk tujuan penggunaan bahan baku yaitu: penggunaan Master List Bahan Baku maksimal selama 4 tahun dan penggunaan BMDTP (Bea Masuk Ditanggung Pemerintah). 

Indonesia juga menyampaikan concern-nya pada sesi kedua ini bahwa acara Steel Dialogue ini merupakan kesempatan bagi pihak Taiwan untuk memulai investasi di Indonesia. Industri baja melalui IISIA, menawarkan kesempatan untuk melakukan joint operation and business collaboration mengingat demand baja di Indonesia akan terus tumbuh ke depannya. Terhadap usulan tersebut, pihak Taiwan menyampaikan bahwa akan mempelajari lebih lanjut usulan proposal dari pihak Indonesia terkait dengan joint operation and business collaboration. Namun, pihak taiwan masih menyampaikan bahwa tarif bea masuk bahan baku baja masih menjadi pertimbangan untuk melakukan investasi.

Meskipun acara Steel Dialogue ini diadakan tahunan, dimana acara berikutnya direncanakan akan diselenggarakan di Surabaya pada akhir September 2019, namun masing-masing pihak, termasuk KDEI Taipei akan terus berkomunikasi satu sama lain untuk memperoleh hasil yang lebih riil yakni adanya investasi China Steel Corporation (CSC) untuk membangun industri baja di Indonesia.

Read more...

Taiwan Jajaki Kerja Sama Industri Perkapalan Hingga Makanan

Taiwan tengah menjajaki peluang kerja sama dengan Indonesia khususnya di sektor manufaktur guna memperkuat perekonomian kedua pihak. Sektor yang potensial untuk dikolaborasikan, antara lain industri perkapalan, pengolahan logam, ICT & Smart City dan teknologi bahan pangan.

Jika kita melihat dari neraca perdagangannya, Indonesia surplus terhadap Taiwan. Namun, masih ada kesempatan besar dalam meningkatkan neraca perdagangan kita dengan mengoptimalkan sumber daya industri sehingga dapat melengkapi satu sama lain.

Pada tahun 2017, total perdagangan kedua pihak mencapai USD 7,4 miliar dan Taiwan berada di peringkat ke-11 sebagai mitra impor maupun ekspor perdagangan global Indonesia. Sementara itu, jumlah investasi langsung Indonesia di Taiwan sebesar USD32,2 miliar. Sedangkan, penanaman modal langsung Taiwan di Indonesia sekitar USD397 juta menjadikan Taiwan sebagai investor urutan ke-14 terbesar Indonesia. 

Penyelenggaraan “Indonesia-Taiwan Industrial Collaboration Forum“ (ITICF)  pada 6 Agustus 2018, di Jakarta, memberikan berbagai inspirasi dan ide, termasuk bentuk investasi dalam upaya implementasi model bisnis digital untuk memajukan dan meningkatkan daya saing industri kedua pihak di era industri 4.0 saat ini.

Forum yang dihadiri 500 orang dengan mengundang pihak pemerintah dan pelaku industri dari Taiwan dan Indonesia itu membahas beberapa peluang kerja sama ekonomi bilateral ke depannya, seperti peningkatan kerjasama teknik melalui pertukaran tenaga ahli serta training; penjajakan promosi investasi serta kolaborasi industri, dan penjajakan kerjasama lainnya yang menjadi keandalan kedua pihak.

Dalam acara ITICF, ditandatangani 6 (enam) buah Memorandum of Understanding (MoU) yang terdiri dari 3 MoU di sektor swasta (antara Universitas Bina Nusantara/BINUS dengan Industrial Economics and Knowledge Center-IEK Taiwan di bidang kerjasama pelatihan dan inovasi industri; PT. Kingda Marine Technical Indonesia dan FunzSan Industry Co. LTD di bidang business and technical service of fishing machine and deck machine; PT Terang Parts Indonesia dan Jarvish Inc di bidang helm pintar).

Selanjutnya, 3 MoU dalam hal kerjasama pengembangan desain industri kreatif dan kemasan pada sektor IKM, kerjasama di bidang makanan dan minuman serta kerjasama industri sains dan teknologi logam) yang ditandatangani oleh Kepala KDEI dengan mitra dari Taiwan.

Dalam rangkaian acara ITICF tersebut juga diselenggarakan sesi one on one business matching yang dibagi dalam 4 (empat) subforum, yakni Subforum Ship Building, Subforum ICT and Smart City, Subforum Food and Bio Technology dan Subforum Metal. Dari hasil subforum tersebut, disepakati untuk melakukan dialog lebih teknis dan intensif yang diwujudkan pada pertemuan Food Dialogue dan Metal Dialogue yang akan datang.

Untuk mempromosikan investasi di kawasan Industri, Sebanyak 17 kawasan Industri turut terlibat dalam mempromosikan kawasannya. Kawasan industri tersebut antara lain adalah Kawasan Industri Jababeka, Kawasan Industri Karawang International Industrial City (KIIC), Kawasan Industri Modern Cikande, Kawasan Industri Jakarta Jakarta Industrial Estate Pulogadung (JIEP) serta Kawasan Industri Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER).

Selanjutnya Kawasan Industri Wijayakusuma, Kawasan Industri MM2100, Kawasan Industri Suryacipta, Kawasan Industri CFLD, Kawasan Industri Artha Industrial, Kawasan Industri Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE), Kawasan Industri Kabil, Kawasan Industri Tanggamus, Kawasan Industri Kendal, Kawasan Industri Batamindo, Kawasan Industri Medan dan Kawasan Industri Sei Mangkei.

Para peserta ITICF juga diajak untuk kunjungan kawasan industri pada tanggal 7-8 Agustus 2018 guna lebih memberikan gambaran mengenai kapasitas industri Indonesia. Para pimpinan perusahaan dan lembaga Taiwan diagendakan untuk melakukan kunjungan Industri yang disesuaikan dengan Jenis Industrinya, Peserta di sub forum Food and Bio Tech, Metal dan Electronic diagendakan untuk melakukan kunjungan Industri di di kawasan industri Modern Cikande, yakni ke First Cable, Sokonindo, Nippon Indosari, Sorini Agro, Bumi Lestari dan Newland Steel dan mengunjungi pula beberapa industri di kawasan industi Jababeka seperti Bumi Cikarang, G-Shank, dan Liwayway. Untuk peserta anggota sub forum shipbuilding diagendakan mengunjungi PT Kampuh Welding Indonesia (Cikarang) dan PT Samudra Marine Indonesia di Cilegon. Untuk peserta ICT& Smart city diagendakan melakukan kunjungan ke Blue Bird Group, Institut Otomotif Indonesia (IOI), Federasi Teknologi Informasi Indonesia (FTII). Keseluruhan kunjungan tersebut ditujukan dalam rangka penjajakan peluang investasi dan kolaborasi di sektor Industri.

Read more...

Taiwan-Indonesia Industry Cooperation Conference di National Cheng Kung University Tainan 

Industrial Economics and Knowledge Center (IEK), Industrial Technology Research Institute (ITRI) beserta Center for Southeast Asian Studies—National Cheng Kung University, dibawah binaan Industrial Development Bureau—Ministry of Economic Affairs, pada tanggal 5 Juni 2018 pk. 09:00-16:50 mengadakan “Taiwan-Indonesia Industry Cooperation Conference” yang mengambil tempat di National Cheng Kung University.

Acara ini dihadiri oleh Kepala Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia di Taipei (KDEI Taipei), Robert James Bintaryo, yang didampingi oleh Kepala Bidang Industri, Syahroni Ahmad, Kasubag Protokol dan Konsuler, Nugroho Priyo Pratmo, dan Staff Bidang Perdagangan, Hendry Sugandi. Dari pihak pemerintah Taiwan, hadir Chief Executive Officer, Southern Region Industrial Parks Administration Office—Industrial Development Bureau (Ministry of Economic Affairs, R.O.C), Ibu A-mei Kuo. 

Pada kesempatan kali ini, Kepala KDEI Taipei menyampaikan informasi terkait pelaksanaan “Indonesia Taiwan Industrial Collaboration Forum” pada tanggal 6-10 Agustus 2018 di Jakarta, dengan harapan dapat membangun hubungan kerjasama industri yang lebih baik lagi antara Indonesia dan Taiwan. Demikian juga sambutan dari Chief Executive Officer, Southern Region Industrial Parks Administration Office—Industrial Development Bureau (Ministry of Economic Affairs, R.O.C), Ibu A-mei Kuo, selain memaparkan dengan singkat kondisi pertumbuhan industri Taiwan, khususnya Taiwan bagian selatan, beliau juga turut menyampaikan keantusiasan pihak Taiwan untuk berpartisipasi dalam “Indonesia Taiwan Industrial Collaboration Forum”. Beliau yakin dan percaya dengan begitu tingginya usia produktif di Indonesia dan angka GDP yang cukup tinggi, hal ini menjadi beberapa alasan yang kuat bagi para pelaku usaha untuk dapat melakukan kerjasama di Indonesia.

Adapun delegasi dari Indonesia yang hadir sebagai pembicara, berasal dari lembaga litbang pemerintah dan akademisi, seperti Dr. Maxensius Tri Sambodo—peneliti senior dari Pusat Penelitian Ekonomi--Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Beliau mengangkat sebuah tema mengenai kondisi lingkungan dan kebijakan ekonomi di Indonesia secara keseluruhan, dimana beliau juga menegaskan bahwa saat ini adalah momentum yang sangat penting untuk berinvestasi di Indonesia, dikarenakan begitu banyak kebijakan dan keuntungan investasi yang sangat mendukung. Selain itu, hadir pula Prof. Dr. Sujoko Efferin dan Prof. Dr. Putu Anom Mahadwartha dari Universitas Surabaya, serta Prof. Dr. Tirta N. Mursitama dari Universitas Bina Nusantara.

Serangkaian acara ditutup dengan sebuah kesimpulan bahwa hubungan, baik itu bidang industri ataupun bidang lainnya antara Indonesia dengan Taiwan, masih memiliki potensi pengembangan yang sangat besar. Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah komunikasi yang terarah baik antar pemerintah maupun antar pelaku usaha.

Read more...

Acara Ambassadors’Day ke Taiwan Agricultural Research Institute (TARI) di Taichung

 

Taipei 17 Mei 2018 – Kepala KDE Taipei, Robert James Bintaryo didampingi oleh Kepala Bidang Perindustrian, Syahroni berkunjung ke Taiwan Agricultural Research Institute (TARI) di Taichung. Dalam  mendorong kebijakan New Southbound Policy khususnya dalam riset dan pengembangan serta kerjasama di bidang pertanian, maka Office of Trade Negotiation, Executive Yuan yang dipimpin oleh Minister without portfolio, John Deng, mengundang para perwakilan dari negara tujuan New Southbound Policy untuk berkunjung ke Taiwan Agricultural Research Institute (TARI). Kunjungan ini dihadiri oleh Representative Tran Duy Hai (Vietnam), Executive Director Thongchai Chasawath (Thailand), Director General Sridharan Madhusudhanan (India), President Datuk Pung Shuk Ken Adeline (Malaysia), Resident Representative & Chairman Angelito Tan Banayo (Filipin), dan didampingi oleh Director General, Jenny Yang from Bureau of Foreign Trade (BOFT); Deputy Director Chen from Council of Agriculture (COA), Executive Yuan dan Director General, Junne-Jih Chen from Taiwan Agricultural Research Institute (TARI). Para perwakilan diundang untuk melihat hasil penelitian TARI dalam bidang pengembangbiakan jamur dan buah markisa, inovasi alat-alat pertanian serta integrasi teknologi Remote Sensing (RS) dan Geographic Information System (GIS) dalam manajemen pertanian di Taiwan.

Taiwan Agricultural Research Institute (TARI) yang berdiri sejak tahun 1895 ini merupakan pusat penelitian yang sangat penting dalam bidang pertanian Taiwan, khususnya dalam kerjasama pertanian yang beragam, pelatihan para ahli pertanian, teknologi yang maju, penelitian bibit baru dan pengembangan sistem manajemen lahan pertanian yang dapat menjawab setiap kebutuhan para pelaku UKM pertanian. Saat ini TARI juga telah menjalin kerjasama teknologi dengan beberapa negara. 

Dengan setiap teknologi dan keunggulan Taiwan dalam bidang pertanian, Executive Yuan berharap agar para perwakilan dapat melihat potensi kerjasama pertanian guna meningkatkan kualitas dan kapasitas hasil panen para petani dan meningkatkan daya saing produk lokal di pasar internasional. Delegasi dari Kementerian Pertanian RI sendiri telah beberapa kali mengunjungi TARI dimana dalam waktu dekat akan direalisasikan kerjasama pertanian antara Indonesia dan Taiwan.

Read more...

Kunjungan KDEI Taipei ke TCI Co., Ltd.

Taipei  11 Mei 2018 – Tim Ekonomi  KDEI Taipei yang dipimpin oleh Kepala KDEI, Robert James Bintaryo melakukan  kunjungan ke TCI Co,. Ltd. ke Pingtung.  Kepala KDEI, Robert James Bintaryo didampingi oleh  Kabag Administrasi, Tri Djuliyanto,  Kabid Industri, Syahroni Ahmad, serta delegasi dari Biro Hukum Kementerian Perindustrian dan 3 orang lokal staff.  

Kunjungan disambut oleh General Manager TCI, Aaron Chen. TCI berdiri sejak tahun 1980 dan telah berhasil menerapkan konsep industri 4.0 di seluruh pabriknya baik di Pingtung, Taiwan, maupun di Shanghai, China. TCI juga merupakan perusahaan pertama di Taiwan yang tergabung ke dalam RE100, kumpulan perusahaan yang memiliki komitmen 100% Renewable Energy. TCI berkontribusi sebesar 15% terhadap ekspor functional food Taiwan, 20% terhadap ekspor functional drink Taiwan, dan 30% terhadap ekspor masker kesehatan Taiwan ke seluruh dunia.

Saat ini TCI juga telah berhasil masuk ke pasar Indonesia dan tengah melakukan kolaborasi dalam bidang R&D. Tahapan selanjutnya yang akan dijalankan TCI yaitu manufacturing process di Indonesia. 

Pada kesempatan yang sama Kepala KDEI Taipei, Robert J. Bintaryo menyatakan sangat menyambut baik rencana TCI untuk berkembang di Indonesia dan akan menyediakan bantuan dan konsultasi yang diperlukan. Turut disampaikan oleh Kabid Industri beberapa peluang kerjasama R&D dengan lembaga litbang/perguruan tinggi yang dapat dijalankan oleh TCI dan Indonesia.

Read more...

Opening Ceremony, Taiwan Innovative Agricultural Machinery Pavilion

 

Taipei - Kepala Bidang Industri, Syahroni mewakili KDEI Taipei hadir pada acara Taiwan Innovative Agricultural Machinery Pavilion tanggal 27 April 2018. Acara yang dihadiri oleh para Ambassador negara sahabat serta perwakilan dari kantor representatif negara-negara cakupan New Southbond Policy ini dimulai dengan sambutan dari Minister Tsung Hsien Lin of Council of Agriculture (COA) dan sambutan dari Mayor Cheng Wen-tsan of Taoyuan City, dilanjutkan dengan kunjungan ke setiap booth serta kunjungan ke lokasi demo mesin.

Beberapa mesin dan teknologi unggulan yang dipamerkan diantaranya mesin pengupas nanas yang hanya memerlukan waktu 4 detik, gunting listrik/baterai untuk memangkas kayu  (electrical pruning shears), drone penyemprot anti hama (agriculture UAV), mesin pemanen sayur, grain dryer (sudah banyak diekspor ke Indonesia), agricultural cloud sensing system, dan soybean sorting machine.

Khusus soybean sorting machine (pemilah kedelai)  dioperasikan oleh 2 orang mahasiswa asal Indonesia yang melanjutkan kuliah di National Pingtung University. Pada kesempatan kali ini Kabid. Industri mendapat kehormatan untuk turut menumpahkan kedelai yang belum dipilah ke dalam mesin pemilah tersebut bersama Menteri COA, Tsung Hsien Lin.

Diharapkan semangat untuk melahirkan inovasi-inovasi di bidang alat mesin pertanian tersebut dapat ditiru oleh lembaga-lembaga litbang dan institusi lainnya di Indonesia.

Read more...

Opening Ceremony Indonesia Food Safety and Regulation Course di Food Industry Reasearch & Development Institute (FIRDI), Hsinchu

24 April 2018 telah dilakukan acara Opening Ceremony Indonesia Food Safety and Regulation Course di Food Industry Reasearch & Development Institute (FIRDI) di Hsinchu.  Indonesia Food Safety and Regulation Course yang digelar FIRDI ini dilaksanakan selama 4 hari di Hsinchu dan Chiayi. Peserta yang hadir terdiri dari perwakilan perusahaan yang bergerak dalam bidang industri makanan dan memiliki minat besar untuk menjalin hubungan dengan Indonesia. Pelatihan ini diadakan dengan maksud memberikan informasi lebih detail kepada para pengusaha industri makanan Taiwan mengenai kondisi dan regulasi industri makanan termasuk regulasi Halal di Indonesia. 

 

Pada pelatihan ini, FIRDI secara khusus mengundang Peneliti Senior, Bpk. Ir. Agus Sudibyo dan  Kepala Seksi Kerjasama, Bidang Pengembangan Jasa Teknik, Bpk. Achmad Taufik sebagai narasumber dari Balai Besar Industri Agro (BBIA) untuk menyampaikan informasi terkait standarisasi dan regulasi industri makanan di Indonesia. Selain itu, FIRDI juga mengundang Kepala KDEI Taipei, Bpk. Robert James Bintaryo untuk dapat memberikan kata sambutan pada pelatihan tersebut didampingi oleh Kepala bidang Industri, Bpk. Syahroni Ahmad dan Kasubbag Konsuler dan Protokol, Bpk. Nugroho Priyo Pratomo. 

 

Kehadiran Kepala KDEI Taipei merupakan salah satu komitmen untuk mempererat kerjasama diantara kedua institusi tersebut, sebagaimana diketahui bahwa FIRDI dan KDEI Taipei telah menandatangani Memorandum Of Understanding (MOU) pada Indonesian Week 2018 tanggal 22 Maret lalu.

 

Deputy Director FIRDI, Ms. Yu-Fen Chen juga menyampaikan terima kasih untuk kesediaan KDEI Taipei telah hadir dan memberikan dukungan kepada para peserta pelatihan ini.  Bpk. Robert menyampaikan bahwa potensi industri makanan di Indonesia sangat besar. Letak geografis dan kebiasaan setiap daerah yang beragam merupakan salah satu keunikan Indonesia. Beliau juga menghimbau para pengusaha Taiwan untuk tetap ramah lingkungan saat mengembangkan industri mereka di Indonesia.

Read more...

KDEI Taipei menghadiri acara Teleconference antara Balai Besar Industri Agro Indonesia (BBIA) dan Food Industry Research and Development Institute (FIRDI) di Hsinchu

Pada hari Senin 22 November 2017 telah diadakan acara teleconference di Food Industry Research and Development Institute (FIRDI) di Hsinchu. FIRDI yang telah berdiri sejak 50 tahun lalu, merupakan pusat penelitian dan pengembangan industri makanan dan minuman di Taiwan. 

Acara ini dihadiri oleh Bpk. Ngakan Timur Antara selaku Kepala Badan Pengembangan dan Penelitian Industri (BPPI) dan Bpk. Umar Habson selaku Kepala Balai Besar Industri Agro (BBIA) di Bogor. Sedangkan dari pihak FIRDI, dihadiri oleh Ms. Yan-Hwa Chu, Director of Product and Process Research Center, dan Mr. Tony J. Fang, Deputy Director General of FIRDI. Sebagai fasilitator, acara ini dihadiri juga oleh KDEI Taipei, yakni Bpk. Syahroni Ahmad, Kepala Bidang Industri, dan Juliana yang dalam hal ini juga berperan sebagai penerjemah.

Pada acara teleconference ini, BBIA dan FIRDI melakukan diskusi lanjutan dalam 3 (tiga) topik bahasan. Pertama, BBIA menyampaikan keinginannya agar FIRDI dapat membantu teknologi dalam memproduksi refined carrageenan dari skala laboratorium menjadi skala industri/mass production. Kedua, pihak BBIA juga ingin menaikkan kualitas produk CBS cocoa butter yang diperoleh dari palm kernel oil. Ketiga, kerjasama penelitian pada minyak dari buah merah Papua yang khasiatnya telah dirasakan masyarakat Papua sejak ratusan tahun yang lalu. Pihak FIRDI menyampaikan kesediaannya untuk bekerjasama dan memberikan bantuan dalam penelitian ketiga topik tersebut dengan menggunakan teknologi yang dimiliki.

Pihak BBIA, FIRDI, dan KDEI Taipei akan terus saling berkomunikasi untuk lebih meningkatkan kerjasama di antara keduanya. BBIA dan FIRDI juga menyampaikan akan merancangkan MOU untuk kerjasama kedua belah pihak. Hasil akhir dari kerjasama penelitian antara BBIA dan FIRDI ini akan bermuara pada kerjasama business-to-business antara industri Indonesia dengan industri Taiwan.

Read more...

Perwakilan KDEI Taipei menghadiri 1st Taiwan Indonesia Steel Dialogue di Jakarta.

14-15 November 1st Taiwan Indonesia Steel Dialogue telah digelar di Jakarta. Pertemuan ini dihadiri oleh perwakilan dari pemerintah dan private sector dari Taiwan dan Indonesia. Steel Dialogue diadakan dengan maksud menjadi satu mutual platform antara Taiwan dan Indonesia khususnya dalam menjalin diskusi dan mencari jalan kluar untuk hambatan dalam industri besi baja kedua belah pihak.

Pertemuan ini dihadiri oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian, Bpk. Ngakan Timur ; Direktur Industri Logam Kementerian Perindustrian, Bpk. Doddy Rahadi ; Ketua Umum of Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA), Bpk. Mas Wigrantoro Roes Setiyadi; Executive Director IISIA, Bpk. Hidajat Triseputro ; Wakil Kepala KDEI Taipei, Bpk. Siswadi ; Kepala bidang Industri, Bpk. Syahroni Ahmad dan beberapa perwakilan dari pemerintahan dan private sector lainnya (Krakatau Steel Tbk., PT. Moon Lion, etc) dengan total 26 orang perwakilan dari Indonesia.  

Delegasi dari pihak Taiwan dipimpin oleh Deputy Director General, Mr. GJ Lee; Chairman of Taiwan Steel & Iron Industries Association (TSIIA), Mr. Horng-Nan Lin; Secretary General of TSIIA, Mr. Alex Shen; Kepala Taiwan Economic and Trade Office Jakarta, Mr. John C. Chen dan beberapa perwakilan dari pemerintahan dan private sector lainnya (China Steel Corp., Chung Hung Steel, Yieh Hui Enterprise Co., Ltd., Yieh United Steel Corp., etc) dengan total 25 orang.

Pertemuan Steel Dialogue ini dimulai dengan penjelasan keadaan ekonomi dari pihak Taiwan dan Indonesia, dan juga beberapa kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah khususnya di bidang steel industry. Lalu dilanjutkan oleh penjelasan perkembangan dan potensi kerjasama industri besi baja dari kedua belah pihak private sector.

Direktur Industri Logam Kementerian Perindustrian, Bpk. Doddy Rahadi menyampaikan bahwa kebutuhan besi baja di Indonesia sangat tinggi karena Indonesia sedang dalam tahap mendorong pembangunan infrasturktur nasional, sedangkan Taiwan memiliki keunggulan dan pengalaman yang kuat dalam industri besi baja. Pihak Indonesia mengharapkan agar Taiwan juga dapat melakukan investasi yang lebih baja dalam sektor ini.

Deputy Director General, Mr. GJ Lee juga menyampaikan bahwa saat ini produksi besi baja dunia sedang mengalami over-production dan banyak negara mengambil langkah yang konservatif dalam sektor industri ini. Maka beliau juga mengharapkan Steel Dialogue ini dapat menjadi platform yang menguntungkan Taiwan dan juga Indonesia. 

Penyerahan cinderamata dari Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian, Bpk. Ngakan Timur kepada Deputy Director General Bureau of Foreign Trade (BOFT), Mr. GJ Lee

Penyerahan cinderamata dari Deputy Director General Bureau of Foreign Trade (BOFT), Mr. GJ Lee kepada Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian, Bpk. Ngakan Timur

 

 

Read more...

KDEI Taipei mengadakan International Forum "Indonesian Fisheries and Seafood Trend 2017" di Kaohsiung Taiwan

Pada tanggal 9 November 2017, KDEI Taipei bekerjasama dengan Kaohsiung City Government menyelenggarakan kegiatan International Forum dengan tem aIndonesian Fisheries and Seafood Trend 2017di Kaohsiung Exhibition Center, Kaohsiung, Taiwan. Kegiatan ini dilangsungkan di tengah acara Taiwan International Fisheries & Seafood Show dan Taiwan Agriculture Week 2017 yang diselenggarakan pada 9-11 November 2017 di lokasi yang sama. Acara dibuka oleh Kepala KDEI, Robert J. Bintaryo dan Deputy Director-General Economic Development Bureau Kaohsiung City Government, Wang, Hong-Rong.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam Taiwan Frozen Seafood Industries Association dan Taiwan Fishing Gear Manufacturing Industries Association. Kegiatan Business Forum tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai potensi Indonesia serta kebijakan-kebijakan terkait investasi serta industri perikanan di Indonesia.

Pada sambutannya, Kepala KDEI Taipei antara lain menyampaikan pentingnya pembanguna nindustri perikanan bagi Indonesia dan tantangan-tantangan dalam mewujudkannya. Salah satunya adalah fasilitas cold-storage yang kurang memadai. Namun demikian telah banyak upaya-upaya pemerintah untuk menaikkan daya saing dan daya tarik investasi di sektor perikanan dan kelautan. Lebih lanjut, pengusaha-pengusaha Taiwan yang memiliki kemampuan untuk melakukan investasi, penerapan teknologi, pengetahuan, ranta ipasok industri, penelitian dan pengembangan, juga dapat menjadikan Indonesia sebagai hub country di Asia Pasifik.

Deputy Director-General Economic Development Bureau Kaohsiung City Government, Wang, Hong-Rong menyampaikan bahwa Kaohsiung City mendukung upaya-upaya Indonesia untuk meningkatkan investasi, perdagangan dan industri, termasuk sektor kelautan dan perikanan mengingat Kaohsiung sendiri merupakan kota pelabuhan dan industri. Selain itu dukungan Kaohsiung City juga dengan mendorong pelaku-pelaku usaha di Kaohsiung untuk mengikuti aturan di Indonesia antara lain dengan mendapatkan sertifikat Halal bagi produk-produknya, sehingga bisa masuk ke dalam pasar Indonesia.

Acara International Forum diisi dengan paparan dari :

  1. Kepala Bidang Industri KDEI di Taipei,Syahroni Ahmad yang menyampaikan kondisi industri pengolahan perikanan dan hasil laut Indonesia.
  2. Kepala Bidang Investasi KDEI di Taipei,Mochammad Firdaus yang menyampaikan peluang investasi perikanan dan hasil laut Indonesia.
  3. Chief Financial Officer PT. Siger Jaya Abadi, Bambang Ardayantoyang mengenalkan produk-produk unggulan serta prospek da ntantangan pengusaha perikanan dan produk hasil laut indonesia.

Pada kegiatan International Forum dengan tema Indonesian Fisheries and Seafood Trend 2017 terdapat beberapa pertanyaan pada sesi tanya jawab, di antaranya kemungkinan bagi pengusaha asing melakukan kegiatan tambak ikan baik di laut lepas maupun di sepanjang garis pantai Indonesia, Kurangnya peserta eksibisi di bidang budidaya perikanan, serta kemungkinan bagi pengusaha Taiwan untuk mendapatkan Tuna dan Bandeng untuk ekspor keluar Indonesia.

 

Read more...
Subscribe to this RSS feed

Kontak Kami

6F, No. 550, Rui Guang Road, Neihu District, Taipei, 114, Taiwan, ROC
Phone : (02) 87526170
Fax : (02) 87523706

Email: ieto[at]ms8.hinet.net

TAUTAN LAIN

DMC Firewall is developed by Dean Marshall Consultancy Ltd