Menu

Ketenagakerjaan (148)

Indonesia Music Festival Berlangsung Meriah

Taipei, OK Prepaid Card Indonesia Music Festival yang dihelat di Taipei, Taiwan, 13 November 2016, berlangsung meriah. Ribuan pengunjung yang sebagian besar adalah tenaga kerja Indonesia (TKI) hadir dalam event hasil kerja sama Pemerintah Kota Taipei, Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei, Taipei City Foreign and Disabled Labor Office, dan sponsor.

Sekitar pukul 11.00, dengan cuaca yang belum begitu stabil, para TKI mulai berdatangan memadati Taipei Expo Park. Acara ini diselenggarakan sebagai salah satu bentuk apresiasi kepada para TKI yang bekerja di Taiwan.

Kepala KDEI di Taipei, Robert J Bintaryo, menyampaikan, pihaknya sangat mengapresiasi sekaligus berterima kasih dengan adanya kegiatan positif ini. “Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan hiburan kepada para TKI yang bekerja di Taiwan serta yang paling penting adalah untuk meningkatkan hubungan antara KDEI di Taipei dan Pemerintah Taipei City,” tandasnya dalam sambutan di hadapan ribuan TKI. 

Menurutnya, jumlah TKI yang bekerja di Taiwan saat ini sekitar 239.257 orang yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Adapun organisasi TKI yang berada di Taiwan tercatat lebih dari 100 organisasi. Organisasi TKI di Taiwan lebih dari 100-an, tentunya merupakan potensi yang sangat besar untuk memperkenalkan budaya Indonesia secara luas ke masyarakat Taiwan dengan berbagai cara, antara lain melalui festival musik.

Masih dalam nuansa Peringatan Hari Pahlawan ke-71 dengan tema “Satukan Langkah untuk Negeri”, beliau juga menyerukan semangat agar tetap semangat dalam mempertahankan dan mengisi kemerdekaan melalu bekerja, menjaga kesatuan dan persatuan bangsa.

“Mari kita sukseskan acara ini dengan tetap menjaga ketertiban, saling mengingatkan, dan tetap bersatu. Marilah kita tunjukkan bahwa kita bangsa Indonesia adalah bangsa besar yang berbudaya,” tambahnya.

Sementara itu, Director of Taipei City Foreign and Disabled Labor Office, Hui–Chi Chen menyampaikan terima kasih atas kontribusi TKI yang sangat penting di Taipei Taiwan. “Kami berterima kasih atas perjuangan TKI untuk bekerja di Taiwan,” ujarnya disambut gemuruh hadirin. Menurutnya, TKI lebih unggul dibandingkan dengan TKA yang lain selain jumlah yang besar juga terkenal dengan keuletannya dalam bekerja.

Acara puncak kemeriahan OK Prepaid Card Indonesia Music Festival adalah dengan penampilan Geisha Band, salah satu band terkenal di Indonesia. Perform music yang dilantunkan oleh vokalis Momo berhasil membakar semangat penonton dengan lagu-lagu andalan seperti Jika Cinta Dia, Takkan Pernah Ada, Kamu Yang Pertama, dan Lumpuhkan Ingatanku. Suasana semakin meriah, khidmat dan mengharukan ketika Geisha Band menyanyikan lagu populer nasional, Tanah Airku serta Gebyar-gebyar yang diikuti serempak oleh penonton. (Kdr)

Read more...

KDEI Taipei Gelar Pelatihan Seni Simpul Tali “Chinese Knotting”

TAIPEI – Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei kembali menggelar pelatihan bagi para tenaga kerja Indonesia (TKI). Kali ini, TKI dari berbagai wilayah di Taiwan mengikuti pelatihan seni simpul “Chinese Knotting”. Melalui pelatihan ini, TKI diharapkan dapat mengisi waktu luang dengan kegiatan produktif dan bernilai ekonomi.

Seni simpul “Chinese Knotting” merupakan kerajinan tangan yang berasal dari Tiongkok. Tak hanya sebagai pernak-pernik hiasan rumah, hasil karya seni simpul “Chinese Knotting” juga dapat menambah penghasilan para TKI. Apalagi, bahan-bahan yang dibutuhkan juga dengan mudah dapat diperoleh di toko kancing.

“Seni simpul ini sangat mudah dikerjakan di sela-sela kegiatan harian. Misal, TKI sedang menjaga pasien, atau jalan-jalan ke taman, sambil berbincang mereka bisa membuat kerajinan ini,” tutur Kartika Dewi, mentor pelatihan seni simpul “Chinese Knotting” ditemui di sela-sela pelatihan, Minggu (06/11).

Kartika menjelaskan, seni karya ini tak hanya dikerjakan bagi perempuan. “Laki-laki juga bisa berkarya, motif-motif yang dikerjakan nanti bisa kita sesuaikan,” tambah Kartika yang telah 7 (tujuh) tahun lebih menggeluti kerajinan ini.

Pelatihan selama sehari penuh yang digelar di kantor KDEI Taipei di Rui Guang Road, Neihu, Taipei, ini dihadiri TKI yang berasal dari Taipei, New Taipei City, Chungli, Taoyuan, dan sekitarnya. Mereka terlihat antusias menyimak sesi pelatihan.

“Seraplah ilmu yang diberikan oleh pengajar. Harapan kami, mba-mba semua yang hadir, kelak bisa mandiri, dan sekembalinya ke Indonesia, bisa berwirausaha di kampung halaman,” tandas Kepala Bidang Ketenagakerjaan KDEI di Taipei, Devriel Sogia Raflis.

Devriel menjelaskan, sejumlah pelatihan bagi TKI sepanjang tahun 2016 telah dilakukan oleh Bidang Ketenagakerjaan KDEI di Taipei. Di antaranya, pelatihan membuat minuman khas chenchu naicha, pelatihan pertanian organik, dan pelatihan pemandu wisata. (*)

Foto-foto: untung subejo

Read more...

KDEI di Taipei Gelar Doa Bersama untuk Dua TKI Korban Badai Megi

YILAN – Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei baru-baru ini menggelar doa bersama bagi 2 (dua) korban TKI yang diduga menjadi korban dalam musibah Badai Megi. Doa bersama di Yilan ini dipimpin oleh Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCI NU) Taiwan. Doa bersama juga dihadiri puluhan TKI pabrik tersebut, perwakilan agensi Golden Manpower Consulting Co, dan majikan pabrik Kung Sing Engineering Corporation.

Kegiatan doa bersama dilakukan sebagai tindak lanjut atas musibah Badai Megi yang pada tanggal 27 September 2016, menghempas Taiwan. 

”Musibah ini hendaknya menjadi bahan pelajaran bagi kita semua agar tetap berhati-hati di tempat kerja, memperhatikan suasana alam di Taiwan yang rawan gempa dan badai,” tutur Kepala KDEI di Taipei, Robert J. Bintaryo, dalam sambutan di depan puluhan TKI yang hadir dalam doa bersama, Sabtu (29/10/2016).

”Kami mengapresiasi upaya dari otoritas di Yilan baik Kepolisian, Tim SAR, agensi, rekan-rekan TKI yang telah bahu-membahu dalam melakukan upaya pencarian,” jelasnya.

Usai kegiatan doa bersama, KDEI di Taipei juga melakukan diskusi dengan puluhan TKI di pabrik tersebut. Secara umum, TKI menyampaikan belum ada persoalan serius terkait ketenagakerjaan.

Sebelumnya, pada tanggal 29 September 2016, Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei menerima informasi bahwa 2 (dua) TKI a.n Hadi Baskoro dan Basori yang bekerja di daerah Yilan diduga turut menjadi korban dalam musibah tersebut. Sejak menerima informasi hilangnya kedua TKI, KDEI di Taipei juga berkoordinasi dengan Satgas KDEI di wilayah Yilan untuk memonitor seluruh perkembangan informasi pencarian kedua TKI. KDEI di Taipei bersama Kepolisian Yilan, agensi, dan perusahaan juga telah mendatangi lokasi musibah. Di lokasi, Kepolisian Yilan menyampaikan kronologi musibah yang dialami kedua TKI. Berdasarkan peninjauan lokasi terlihat badan jalan mengalami kerusakan parah tergerus gelombang sungai, sehingga diperkirakan kedua TKI ikut terseret bersama truk yang mereka kendarai ke dalam sungai.

Berdasarkan data yang dirilis Pemerintah Taiwan pada tanggal 29 September 2016, tercatat sebanyak 7 (tujuh) korban meninggal dunia dan 625 korban luka-luka dalam musibah tersebut. Seluruh korban adalah warga setempat. (*)

 

Read more...

Partisipasi KDEI di Taipei dalam Taichung City 2016 International Labor Festival

TAICHUNG CITY – Taichung City 2016 International Labor Festival yang dihelat di Taichung City, Taiwan, 23 Oktober 2016, berlangsung meriah. Pengunjung yang sebagian besar adalah Tenaga Kerja Asing (TKA) dari berbagai negara Sending Countries (Indonesia, Filipina, Vietnam dan Thailand) serta warga lokal Taiwan turut hadir meramaikan event tersebut yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Taichung.

Sekitar pukul 09.00, para TKA, supporter mulai berdatangan memadati Taman Kreatif Budaya Taichung, yang beralamat di 362, sec. 3, Fuxing Rd., South Dist, Taichung City. Acara ini diselenggarakan dengan maksud untuk mensosialisasikan program pemerintah Taichung sebagai kota yang paling bersahabat dan ramah di Taiwan, dan serta paling cocok untuk dihuni khususnya bagi tenaga kerja asing.

Wakil Kepala KDEI di Taipei, Siswadi, menuturkan, pihaknya mendukung kegiatan positif ini serta turut mengapresiasi Pemerintah Kota Taichung yang mengakui existensi TKI telah banyak berkontribusi secara signifikan dalam pertumbuhan ekonomi di Taichung. Melalui kegiatan ini, KDEI di Taipei memperkenalkan seni budaya bela diri Indonesia, yakni pencak silat yang diwakili dari tim PSHT (Persaudaraan Setia Hati Terate).

Sementara itu dalam sambutannya, Walikota Taichung City, Chia-Lung Lin menyampaikan terima kasih kepada perwakilan Sending Countries yang telah hadir (Indonesia, Filipina, Thailand dan Vietnam), tamu terhormat lainnya, serta kepada masyarakat Taichung dan tenaga kerja asing yang ikut pada acara kegiatan Karnaval Buruh Internasional ini. Beliau mengatakan bahwa kota Taichung adalah kota yang layak untuk tempat tinggal bagi imigran baru maupun turis. Kota Taichung menjadi pelopor utama yang merubah First Square menjadi ASEAN Square. Diharapkan mendapat dukungan dari perwakilan Sending Countries untuk rencana dibukanya spot pelayanan center di ASEAN square. Pemerintah kota Taichung akan mendirikan Pusat Pelayanan bagi TKA dan mimbar (platform) interaktif di ASEAN Square tersebut. Fasilitas ini nantinya dapat dimanfaatkan oleh TKA untuk konseling, pengaduan maupun kegiatan positif lainnya.

Perhelatan Karnaval Buruh Internasional diawali dengan kegiatan Parade Budaya Luar Negeri, Kuliner Khas Luar Negeri, dan Lomba Bakat Modeling. 

Suasana makin meriah dengan penampilan pencak silat yang dipertunjukkan oleh Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT). Penampilan jurus-jurus pencak silat berhasil memukau penonton, dewan juri dan mengungguli peserta dari negara lain. Kemeriahan ini tentunya didukung oleh ratusan penonton dari TKI yang setia mendukung perform PSHT yang mewakili Indonesia dalam event spektakuler ini. Terbukti PSHT tampil dengan sukses serta berhasil menjadi juara 1 kategori talent show. Juara kedua disusul COFWA (Filipina) dan ketiga juga dari 矽手相連 (Filipina). Ketua Tim PSHT Cabang Khusus Taiwan, Budi menyampaikan bangga dengan capaian prestasi ini.

Selain lomba perform budaya, juga diadakan lomba melukis dengan tema kota Taichung, dan Indonesia kembali mengungguli peserta dari negara lainnya. Justto Lasoo, keluar sebagai juara pertama.

Kegiatan ini berlangsung dengan tertib sampai pukul 14.00. Di akhir acara Wakil Kepala KDEI di Taipei mengucapkan selamat atas prestasi tim PSHT dan Justto Lasso serta sempat berdialog dengan TKI. Beliau menyampaikan agar tetap tetap rukun, kompak, aktif dalam membantu perlindungan TKI/WNI, serta meningkatkan hubungan baik dengan sesama organisasi di Taiwan. (*KDR)

 

Read more...

Asah Kewirausahaan, TKI Kembali Berlatih Membuat Minuman Chenchu Naicha

TAIPEI – Sejumlah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Taiwan kembali mendapat pembekalan berlatih membuat minuman khas chenchu naicha. Selama sehari penuh, para TKI dengan antusias menyimak sesi pelatihan yang digelar di Café Yang Dining Academy, Taipei. 

Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei yang menyelenggarakan kegiatan ini berharap, para TKI dapat mengasah kemampuan kewirausahaan sebagai bekal sekembalinya ke Tanah Air.

“Selamat mengikuti pelatihan membuat minuman khas chenchu naicha ini. Pelajari baik-baik sebagaimana dijelaskan pengajar. Mudah-mudahan banyak manfaat yang bisa dipetik dari pelatihan ini” tutur Kepala KDEI di Taipei, Robert J Bintaryo, di hadapan puluhan peserta pelatihan, Minggu (2/10). Kepala KDEI di Taipei juga berpesan agar para TKI dapat melakukan kegiatan positif selama bekerja di Taiwan. 

Sementara itu, Kepala Bidang Ketenagakerjaan KDEI di Taipei Devriel Sogia Raflis menyampaikan, pelatihan membuat minuman khas chenchu naicha kali ini merupakan penyelenggaraan kedua, setelah pada Mei 2016 juga digelar kegiatan serupa.

“Kegiatan kali ini diadakan di Taipei, tapi menjadi pertimbangan kami bahwa pelatihan serupa juga sekiranya dapat diadakan di wilayah lain seperti Kaohsiung, Taichung, atau Tainan. Kami akan evaluasi apakah animo TKI di wilayah tersebut juga tinggi,” terangnya.

Sebagai informasi, sepanjang tahun 2016 ini telah dilakukan sejumlah exit program berupa pembekalan TKI, di antaranya: pelatihan pertanian organik, pelatihan pemandu wisata (teori dan praktek), serta pelatihan chenchu naicha. 

“Ke depan akan kita rancang kegiatan pemberdayaan lainnya, misalnya pelatihan merajut dan lain-lain,” tandasnya. 

Pelatihan membuat minuman chenchu naicha, diikuti sedikitnya 29 peserta. Tak hanya dari Taipei, peserta dari wilayah lain seperti New Taipei City, dan Hsinchu juga turut hadir. 

“Ini merupakan kali pertama saya ikut pelatihan membuat chenchu naicha. Saya tertarik ikut kegiatan ini karena banyak manfaatnya. Jika ada kesempatan, pasti saya akan ikut kegiatan seperti ini,” cetus Nurnaningsih, TKI asal Wonosobo. 

TKI lainnya, Sholechudin, menyambut positif pelatihan membuat chenchu naicha. TKI asal Cilacap ini berharap, kegiatan serupa dapat diintensifkan demi memberdayakan TKI. Khusus untuk pelatihan ini, KDEI di Taipei mendatangkan pelatih khusus seorang chef yang memang piawai meracik minuman chenchu naicha. Pelatihan disampaikan dengan bahasa pengantar Mandarin. (*)

 

Read more...

Tabligh Akbar Bersama Ustadz Yusuf Mansur

Minggu 18 September 2016, Forum Pahlawan Devisa Yayasan Hidayatul Jannah (FPDYHJ) menyelenggarakan Tabligh Akbar dalam rangka Milad ke 2 yang bertempat di pelataran selatan Taipei Main Station.

Turut hadir Robert J Bintaryo selaku Kepala KDEI Taipei beserta Jajarannya. Tema yang diangkat adalah Meraih Berkah dengan Sedekah. Meskipun sehari sebelum acara di Taipei terjadi typhoon, antusias Jama'ah untuk hadir pada acara selatan akbar cukup besar, hal ini ditandai dengan membludaknya jumlah Jama'ah.

Read more...

Tausyiah Idul Adha 1437 Hijriah bersama Prof. M. Ali Aziz

TAIWAN – Bertepatan dengan momentum Idul Adha 1437 Hijriah, Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei menggelar tausyiah bagi para TKI di sejumlah wilayah di Taiwan. Tausyiyah menghadirkan Prof. Dr. Ali Aziz yang merupakan guru besar Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya.

Rangkaian tausyiah diawali dengan silaturahmi bersama ABK Nelayan di kawasan Pelabuhan Tongkang, Pingtung. Ratusan ABK Nelayan khusuk mendengarkan ceramah yang disampaikan Prof. Dr. Ali Aziz. Dalam tausyiahnya, beliau menyampaikan, ikhtiar bekerja di perantauan sebagai TKI pada hakikatnya adalah beribadah. Sebab niat bekerja pun merupakan bagian dari ibadah. Oleh karena itu, menjadi TKI yang menghidupi keluarganya di kampung halaman adalah mulia, karena itu keringatnya pun merupakan ibadah.

Prof. Dr. Ali Aziz pun mengutarakan kekaguman terhadap para ABK di Tongkang yang menyisihkan rizkinya untuk membangun masjid An Nur yang berlokasi di Tongkang. Apabila saat bersedekah, diniati atas nama orang tua, maka aliran ibadah dan pahalanya akan terus-menerus mengalir untuk kedua orang tua, meskipun mereka telah tiada.

Usai tausyiah di Tongkang, kegiatan dilanjutkan dengan ceramah di Shelter Chungli. Prof. Dr. Ali Aziz menyampaikan kepada para penghuni shelter, bahwa seberat apapun masalah yang dihadapi, TKI harus optimistis mampu melewatinya, sebab Allah tidak akan menguji di luar kemampuan umat Nya. Prof. Dr. Ali Aziz juga menyampaikan beberapa doa untuk menenangkan hati yang risau akibat dibelit masalah. 

Pertemuan bersama para ABK di Pelabuhan Nanfang Ao Yilan yang bertepatan dengan malam Idul Adha 1437 Hijriah juga berjalan khidmat. Tausyiyah diawali dengan menunaikan ibadah sholat mahrib secara berjamaah di Masjid Baitul Muslimin dilanjutkan dengan Takbiran. Di hadapan puluhan ABK, Prof Dr. Ali Aziz menyampaikan keutamaan ibadah sholat meski dalam kondisi bekerja sesulit apapun. Beliau menyampaikan, sholat adalah kewajiban dan harus dikerjakan dalam kondisi bagaimanapun. Sebagai contoh, bagi para ABK, jika sedang di lautan luas dan kesulitan mencari tempat sholat, tetap dapat sholat meski dengan bekerja menarik jaring. 

Rangkaian tausyiah ditutup dengan ceramah di Shelter Taichung. Dalam tausyiyahnya, Prof Dr Ali Aziz menyampaikan, salah satu kunci dari berdoa adalah melakukannya secara rutin dan di waktu-waktu yang lebih utama. Sebagai contoh, doa-doa yang dilantunkan pada saat sedang bersholat akan lebih mudah dikabulkan Allah SWT. Tausyiyah juga diisi dengan tanya jawab dengan para penghuni Shelter Taichung. Sesi ini dimanfaatkan oleh para TKI untuk sharing persoalan yang dihadapi TKI untuk mencari solusi secara Islami dari Prof Dr Ali Aziz. (*)

Read more...

Sosialisasi Ketenagakerjaan, Keimigrasian dan Penegakan Hukum Dalam Rangka Peningkatan Perlindungan TKI di Taiwan

KDEI Taipei menyelenggarakan sosialisasi kepada Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bertujuan untuk memberikan informasi tentang Ketenagakerjaan, Keimigrasian dan Penegakan Hukum di Taiwan. Selain itu juga sebagai wadah silaturahmi antar TKI dan diskusi seputar permasalahan ketenagakerjaan, langkah penyelesaian masalah TKI, serta diskusi untuk mencari solusi yang efektif guna perbaikan pelayanan, penempatan serta perlindungan TKI di Taiwan.

Kepala KDEI Taipei Robert J Bintaryo memaparkan, saat ini jumlah TKI yang bekerja di Taiwan sekitar 237.085 orang, sedangkan jumlah organisasi TKI lebih dari 100. Hal ini tentunya menyimpan potensi yang besar untuk mengenalkan Indonesia ke masyarakat Taiwan. Selain itu jumlah yang besar ini juga menyimpan potensi berbagai permasalahan TKI.

“Kami menyadari bahwa dalam penyelesaian permasalahan TKI, KDEI Taipei tidak mampu bekerja sendiri namun memerlukan bantuan dan dukungan dari rekan-rekan TKI/WNI. Kami juga mengucapkan terima kasih atas dedikasi, sumbangsih dan perjuangan Tim Satgas TKI maupun sukarelawan yang telah membantu mengurai permasalahan TKI di Taiwan”, ujarnya.

Kegiatan sosialisasi ini dihadiri TKI yang berjumlah kurang lebih 100 orang yang berasal dari berbagai wilayah di Taiwan. Mereka mulai datang ke tempat acara/Taiwan International Convention Centre (TICC) sejak pukul 10.00. Pada kegiatan ini terdapat beberapa narasumber utama antara lain Disnaker, Imigrasi dan Kepolisian Taiwan.

Pihak Imigrasi Taiwan memaparkan hal-hal yang berkaitan dengan keimigrasian. Secara umum, TKI kaburan khususnya dari Indonesia jumlahnya tertinggi kedua setelah Vietnam. Oleh karena itu pihak imigrasi Taiwan berharap supaya para peserta yang hadir dapat menyampaikan berita ini kepada rekan-rekannya yang berstatus kaburan supaya segera melaporkan diri ke polisi atau ke imigrasi terdekat. Imigrasi Taiwan menjamin TKI kaburan yang melaporkan diri secara langsung tidak akan ditahan. Sedangkan sanksi penahanan di rumah detensi keimigrasian kepada TKI kaburan akan dilakukan bilamana TKI tersebut tersangkut kasus hukum di Taiwan. Atau menyalahi ketentuan yakni TKI kaburan tidak pulang dalam batas waktu yang telah ditentukan oleh pihak Imigrasi. Kendala saat ini adalah dokumen keimigrasian TKI yang kadang tidak ada. TKI dapat meminta bantuan di saluran 1955 untuk pengembalian dokumen keimigrasian bila masih ditahan oleh majikan resminya. TKI kaburan dikenakan sanksi denda maksimal NTD 10.000 dan dapat memasuki Taiwan dalam waktu tiga tahun kemudian. Dalam waktu dua hari TKI kaburan yang melapor dapat dipulangkan bila telah membayar denda dan lengkap dokumen keimigrasiannya.

Sementara dari pihak kepolisian menyampaikan tentang hukum-hukum yang berlaku di Taiwan. Sebagaimana kita ketahui bahwa Taiwan sangat menjunjung tinggi hak asasi manusia. Bagi warga asing bila mendapatkan ancaman dapat segera melaporkan ke kepolisian terdekat. Contoh, bila TKI mendapatkan perlakuan kriminal dari warga Taiwan dapat melaporkan ke kantor polisi di saluran 101 disertai dengan bukti yang menguatkan. Selain itu pihak kepolisian berpesan agar TKI berhati-hati terhadap berbagai modus penipuan (fraud), serta bahaya narkoba. 

Pihak Disnaker Taiwan memaparkan bahwa permasalahan tenaga kerja dalam penyelesaiannya bisa berbeda-beda tergantung dari jenis kasusnya. Disnaker membantah adanya pemulangan sepihak, sebagaimana yang banyak dikeluhkan oleh TKI. Dijelaskan bahwa proses pemulangan TKI itu terjadi bilamana antara TKI dan majikan telah menyetujui pemutusan kontrak di Disnaker. Jika keberatan dan merasa dirugikan TKI berhak untuk tidak menandatangani dokumen kepulangan tersebut.

Salah satu usulan TKI yang diapresiasi oleh Pihak Disnaker adalah sepakat dengan frekuensi pembinaan agensi dilakukan lebih dari satu kali setahun. Masukan ini penting mengingat penyebab utama meningkatnya permasalahan TKI adalah kurang tanggapnya  agensi terhadap pelayanan pengaduan TKI.

Kepala KDEI Taiwan menyerukan agar tetap menjaga tali silaturahmi, persaudaraan, kekompakan, solidaritas, mendukung persatuan dan kesatuan, aktif dalam membantu perlindungan TKI/WNI dan meningkatkan hubungan baik dengan sesama organisasi di Taiwan. Selanjutnya disampaikan bahwa KDEI Taipei bersama dengan pihak-pihak terkait di Taiwan, mencoba untuk melakukan pembinaan melalui pemberian tindakan tegas terhadap pelaku serta ketua organisasi yang anggotanya terlibat dalam tindakan yang mengganggu ketertiban umum. Selanjutnya ditekankan agar menghindari perkelahian/tawuran, mewaspadai penipuan, jangan menjadi TKI kaburan, serta mewaspadai jangan sampai terlibat narkoba serta menjadi pelaku atau korban human trafficking.

Saat ini KDEI Taipei terus berupaya semaksimal mungkin untuk menyelesaian permasalahan TKI, tercatat dalam SIMPATI (Sistem Penyelesaian Permasalahan TKI) mulai tahun 2014 sampai dengan periode September 2016, menunjukkan perubahan yang signifikan. 

Wakil Kepala KDEI Taipei dalam paparannya menambahkan agar tetap menjaga ketertiban, menghindari konflik, gesekan antar pekerja/majikan. Jika TKI tidak serta tidak segan-segan akan dilakukan pemulangan paksa terhadap TKI yang terlibat perkelahian di Taiwan.

Di akhir sesi paparan, Kepala Bidang Ketenagakerjaan menegaskan kembali agar TKI dapat berpartisipasi aktif bersinergi, berkolaborasi dalam upaya membantu meningkatkan perlindungan TKI di Taiwan. Berdasarkan data statistik yang ada bahwa permasalahan TKI Kaburan dan ABK LG (letter of guarantee) telah meninggalkan beban tagihan yang tinggi baik untuk pembiayaan rumah sakit maupun untuk biaya pemulangan jenazah. Terkait hal ini telah dikoordinasikan dengan berbagai pihak terkait di Jakarta. Sebagai informasi bahwa TKI Kaburan dan ABK-LG dua-duanya tidak dilindungi oleh hukum Taiwan. TKI Kaburan kehilangan hak-haknya sebagai pekerja di Taiwan. Demikian juga ABK-LG karena tidak terdata di kementerian manapun di Taiwan maupun di Indonesia. Dalam kesempatan ini, membuka wawasan dan mengajak hadirin semua untuk sama-sama memahami permasalahan yang belum ditemukan solusi efektifnya.

Dalam kesempatan ini juga turut diliput oleh media TV Taiwan dan sebagai salah satu rangkain dalam pembuatan film dokumenter dengan subyek utama Satgas TKI. Pesan yang ingin disampaikan adalah kinerja Satgas TKI dalam membantu pemerintah dalam hal ini KDEI di Taipei dalam membantu penyelesaian masalah TKI. Peliputan dilakukan selama acara berlangsung dengan memantau langsung interaksi anggota Satgas TKI. Di sela-sela kegiatan, wawancara eksklusif juga dilakukan dengan Kepala KDEI di Taipei. Pertanyaan yang diajukan adalah seputar mekanisme kerja dan perekrutan Satgas TKI dan sejauh mana telah berkontribusi dalam memberikan bantuan perlindungan kepada TKI lainnya. Hal ini menarik bagi media karena selain membantu TKI lainnya, anggota satgas tersebut juga merupakan TKI. 

Pada akhir sesi pemaparan, Kepala Bidang Ketenagakerjaan mengingatkan kembali bahwa sudah saatnya kita meningkatkan kerjasaman kolaborasi yang lebih erat. Beberapa kegiatan positif yang telah dilakukan antara lain mempromosikan TKI kepada iklan via bus dengan tagline "TKI terampil dan bermartabat". Lebih lanjut bahwa KDEI di Taipei telah berupaya memperjuangkan hak-hak TKI antara lain inisiasi dalam penyusunan struktur biaya penempatan (cost structure) di Taiwan, menjadi pelopor dalam kenaikan gaji TKI domestik yang mana telah diinisiasi rapat awal dengan negara sending countries lainnya (Filipina, Thailand dan Vietnam), serta melaksanakan kegiatan pemberdayaan TKI (exit program) dan lain sebagainya. 

Secara umum peserta sangat antisusias dengan kegiatan ini, namun satu isu yang masih pro dan kontra yakni soal perpanjangan kontrak kerja tiga tahun tanpa harus pulang. Mayoritas TKI menyetujui hal tersebut dengan alasan untuk menyiasati biaya penempatan kembali yang masih tergolong sangat mahal. KDEI di Taipei menjelaskan bahwa selama TKI sudah bisa mandiri dalam menyelesaikan permasalahan maka isu tersebut sangat bagus dan tidak menjadi permasalahan, bila belum siap maka akan timbul masalah baru. Isu ini kembali mencuat ke permukaan setelah media lokal Taiwan ramai memberitakan akhir-akhir ini. Terkait kebijakan baru ini, pemerintah Taiwan sendiri belum mengesahkan dan mengumumkan secara resmi.

Di sesi penutupan, disampaikan agar TKI tetap dapat berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan berikutnya yang diselenggarakan oleh KDEI di Taipei.

Read more...

Meriahnya Festival Budaya Nusantara 2016 di New Taipei City

NEW TAIPEI CITY – Pagelaran Festival Budaya Nusantara 2016 yang dihelat di New Taipei City, Taiwan, 4 September 2016, berlangsung meriah. Ribuan pengunjung yang sebagian besar adalah tenaga kerja Indonesia (TKI) hadir dalam event hasil kerja sama Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei bersama Pemerintah Kota New Taipei City, Workforce Development Agency, Ministry of Labor, Labour Affairs Bureau, dan sponsor.

Sekitar pukul 11.00, di tengah terik matahari dengan suhu di atas 35 derajat Celsius, para TKI mulai berdatangan memadati Alun-alun Balai Kota New Taipei City. Acara yang diadakan rutin setiap tahun ini diselenggarakan sebagai salah satu bentuk apresiasi kepada para TKI yang bekerja di wilayah New Taipei City.

Kepala KDEI di Taipei, Robert J Bintaryo, menuturkan, pihaknya sangat mengapresiasi sekaligus berterima kasih dengan adanya kegiatan positif Festival Budaya Nusantara 2016 ini. “Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan hiburan kepada para TKI yang bekerja di Taiwan serta yang paling penting adalah untuk meningkatkan hubungan antara KDEI di Taipei dan Pemerintah New Taipei City,” tandasnya dalam sambutan di hadapan ribuan TKI. 

Menurutnya, jumlah TKI yang bekerja di Taiwan saat ini sekitar 237.085 orang yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Adapun organisasi TKI yang berada di Taiwan tercatat lebih dari 100 organisasi. Hal ini merupakan potensi untuk memperkenalkan budaya Indonesia secara luas ke masyarakat Taiwan. Dengan mengenal budaya Indonesia, diharapkan majikan semakin memahami tradisi dari tenaga kerja sehingga diharapkan kesalahpahaman terutama menyangkut tradisi dan adat istiadat antara kedua belah pihak tidak akan terjadi. 

“Mari kita sukseskan acara ini dengan tetap menjaga ketertiban, saling mengingatkan, dan tetap bersatu. Marilah kita tunjukkan bahwa kita bangsa Indonesia adalah bangsa besar yang berbudaya,” imbuhnya.

Sementara itu, Walikota New Taipei City, Mayor Eric Zhu menyampaikan, hingga saat ini jumlah TKI di wilayah New Taipei City mencapai 40.000 TKI. Jumlah yang tidak sedikit, namun dalam kesehariannya dapat tercipta hubungan yang harmonis antara majikan dan TKI. “Kami menyambut dengan hangat, dengan tangan terbuka, TKI di wilayah kami,” ujarnya disambut gemuruh hadirin.

Pihaknya berharap, hubungan yang telah terjalin dengan baik ini dapat berlangsung seterusnya. Karena, menurutnya, TKI telah menjadi bagian dari keluarga besar New Taipei City.

Perhelatan Festival Budaya Nusantara 2016 dibuka dengan penampilan Morning Fresh Band dan The Relix Band, keduanya adalah band bentukan TKI. Suasana makin meriah dengan penampilan pencak silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), rancak tarian Saman dan Sajojo yang dibawakan dengan apik oleh penampil Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Taiwan.

Kemeriahan Festival Budaya Nusantara dipungkasi dengan penampilan Band Naff. Band beranggota Arda, Ade, Odeu, dan Hilal ini berhasil membius penonton dengan lagu-lagu andalan seperti Akhirnya Kumenemukanmu, Bila Nanti Kau Milikku, Kau Masih Kekasihku, dan Dosa Apa. (*)

Read more...
Subscribe to this RSS feed

TAUTAN LAIN

Kontak Kami

6F, No. 550, Rui Guang Road, Neihu District, Taipei, 114, Taiwan, ROC
Phone : (02) 87526170
Fax : (02) 87523706

Email: ieto[at]ms8.hinet.net

DMC Firewall is developed by Dean Marshall Consultancy Ltd