Menu

Ketenagakerjaan (148)

Kunjungan Kepala BNP2TKI ke Taiwan

Kepala BNP2TKI beserta delegasi melakukan kunjungan kerja ke Taiwan pada tanggal 24 s.d 26 Januari 2015.  Dalam kunjungannya, pada tanggal 25 Januari 2015, Kepala BNP2TKI melakukan pertemuan serta dialog dengan para TKI di 3 (tiga) tempat berbeda yaitu di Shelter KDEI Taoyuan untuk mewakili permasalahan TKI yang mengalami permasalahan serta ditampung sementara oleh KDEI Taipei, di kantor KDEI Taipei untuk mendengarkan aspirasi dari seluruh perwakilan organisasi di Taiwan, dan untuk mengetahui kendala serta permasalahan yang dihadapi oleh TKI yang bekerja sebagai ABK maka pertemuan dilakukan di pelabuhan Ba Dao Zi, kota Keelung.

 

1.Dialog bersama TKI yang berada di Shelter KDEI kota Taoyuan

Pada kunjungannya ke shelter KDEI kota Taoyuan, Kepala BNP2TKI beserta delegasi bersama KDEI Taipei bertemu dengan 15 penghuni shelter. Selain 15 orang TKI yang tinggal di shelter terdapat satu orang bayi yang ditinggalkan oleh ibunya yang merupakan TKI yang berstatus kaburan. 

Selama di shelter dialog terkait dengan permasalahan yang mereka alami sehingga membuat mereka harus tinggal di shelter. Dari TKI, permasalahan yang paling banyak terjadi adalah tentang salah job yang mana TKI dipekerjakan tidak sesuai dengan perjanjian kerja. Selain permasalahan salah job, permasalahan lain yang dihadapi adalah kasus human traficking yang mana TKI telah dipekerjakan tidak sesuai dengan perjanjian kerja dan juga ARC yang dipegang oleh majikan tidak pernah diurus, sehingga menyebabkan yang bersangkutan berstatus kaburan. 

Melihat kondisi tersebut, maka sangat perlu adanya pembinaan dan pelatihan bagi calon tenaga kerja untuk lebih berani melaporkan jika terjadi tindakan-tindakan yang dilakukan oleh majikan, agency ataupun PPTKIS yang menyalahi aturan ketenagakerjaan. Selain itu perlu juga diajarkan kepada calon tenaga kerja untuk berhati-hati dalam pergaulan selama di Taiwan karena tradisi dan adat istiadat yang berbeda dengan Indonesia banyak membuat TKI khususnya TKW terjerat dalam pergaulan bebas yang pada akhirnya merugikan dirinya sendiri. Hal terakhir yang disampaikan oleh kepala BNP2TKI adalah untuk tidak kabur seberat apapun masalah yang sedang dihadapi, karena dengan kabur semua hak dan perlindungannya akan hilang, dan akan lebih baik jika ada masalah untuk segera melaporkan kepada pemerintah Taiwan atau kepada KDEI Taipei.

 

2.Dialog bersama TKI Dan Perwakilan Organisasi TKI di Kantor KDEI Taipei.

Setelah melakukan kunjungan dan berdialog dengan TKI yang berada di Shelter KDEI kota Taoyuan, acara pertemuan dilanjutkan di kantor KDEI Taipei. Di kantor KDEI dialog dilakukan bersama perwakilan organisasi di Taiwan. selain acara dialog, pada kesempatan yang sama Kepala BNP2TKI beserta delegasi juga melihat secara langsung kegiatan mahasiswa Universitas Terbuka (UT) Taiwan yang sedang melakukan kegiatan seminar karya ilmiah.

Dalam dialog dengan perwakilan organisasi di Taiwan,  setiap perwakilan organisasi menyalurkan aspirasi dengan menanyakan permasalahan yang selama ini mereka hadapi. Permasalahan utama yang disampaikan adalah mengenai jual beli job TKI formal yang masih berjalan di indonesia. Selain itu permasalahan lain yang disampaikan diantaranya adalah mengenai TKI yang masuk ke Taiwan bagaimana mereka mendapatkan haknya sesuai dengan perjanjian kerja dan juga perlindungan oleh pihak-pihat terkait jika TKI mengalami permasalahan. Permasalahan lain adalah mengenai hak libur dan dokumen yang tidak dibawa oleh yang bersangkutan padahal dokumen pribadi adalah hak dari TKI untuk membawanya dan tidak dibenarkan bahwa pihak majikan ataupun agency memegang ataupun menyimpan dokumen tersebut tanpa persetujuan dari yang bersangkutan. Masalah asuransi meninggal karena hilang dan tidak ditemukan, perhitungan pajak dan permasalahan direct hiring adalah permasalahan yang ditanyakan dalam diskusi tersebut. 

Menanggapi permasalahan-permasalahan tersebut, Kepala BNP2TKI menjawab satu per satu permasalahan yang ditanyakan. Untuk masalah jual beli job, Kepala BNP2TKI menyampaikan bahwa akan memberlakukan penempatan dengan sistem Mandiri serta Re-Entry Direct Hiring untuk sektor Formal tahun 2015, yang mana saat ini pemerintah masih melakukan evaluasi terkait perlindungan bagi TKI serta teknis atau mekanisme legalisasi dokumen penempatannya. Terkait asuransi TKI meninggal karena hilang dan tidak ditemukan, untuk mendapatkan surat kematian tersebut biasanya membutuhkan waktu selama 7 (tujuh) tahun dari hari dimana korban dinyatakan hilang. Batasan tujuh tahun tersebut merujuk pada hukum internasional. Hukum di Taiwan berbeda dengan hukum di Indonesia dan untuk semua proses hukum yang terjadi pada TKI akan mengacu pada hukum di Taiwan, dan pemerintah Indonesia tidak bisa melakukan intervensi terhadap hukum yang berlaku. Yang dapat dilakukan oleh perwakilan pemerintah Indonesia adalah melakukan pendampingan terhadap semua proses hukum yang menimpa warga negara Indonesia. 

Untuk meningkatkan kemampuan Tenaga Kerja Indonesia agar mempunyai ketrampilan khusus setelah kembali ke Indonesia, Kepala BNP2TKI menyampaikan bahwa program peningkatan ketrampilan kepada TKI akan terus dilakukan. Dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh KDEI Taipei yang sudah dilaksanakan akan terus berkesinambungan untuk menciptakan TKI yang terampil. 

Mengenai permasalahan biaya penempatan TKI, pada tanggal 9 Desember 2014 pemerintah Indonesia beserta pengusaha dalam hal ini PPTKIS dan agency beserta TKI melakukan sebuah pertemuan yang membahas mengenai komponen apa saja yang harus dibayarkan seperti paspor, VISA dan fee agency. Untuk mewujudkan hal tersebut, pemerintah masih menunggu waktu pencairan dana yang pada intinya semua beban biaya tersebut tidak boleh dibebankan kepada TKI. Permasalahan asuransi dan klaim asuransi saat ini sudah membaik. Hal tersebut karena ada tiga konsorsium asuransi yang melayani asuransi TKI sehingga sudah tidak ada lagi monopoli asuransi. Meskipun pelayanan asuransi sudah membaik dibandingkan dengan sebelumnya masih ada mekanisme asuransi yang harus diperbaiki. Hal ini menyangkut pemegang asuransi yang tidak melakukan klaim asuransi, diharapkan kedepannya jika pemegang kartu asuransi tidak pernah melakukan klaim asuransi maka pihak asuransi harus mengembalikan uang yang telah dibayarkan oleh pemegang kartu asuransi.

Menanggapi penghapusan KTKLN yang masih ramai dibicarakan, Kepala BNP2TKI dalam dialog bersama perwakilan organisasi menyampaikan bahwa penghapusan KTKLN menyalahi aturan UU No. 13 Tahun 2003. Untuk menanggapi masalah tersebut bukan KTKLN yang harus dihapus tapi perbaikan sistem yang harus diperbaiki. Untuk TKI yang bekerja di Korea, KTKLN akan disatukan dengan atm bank sedangkan untuk TKI yang bekerja tidak di Korea maka kartu KTKLN akan menjadi satu dengan kartu asurani dan jika dalam pelaksanaannya masih ada penyalah gunaan kartu KTKLN maka dapat melaporkan ke BNP2TKI. 

 

Kepala BNP2TKI beserta delegasi melakukan kunjungan kerja ke Taiwan pada tanggal 24 s.d 26 Januari 2015.  Dalam kunjungannya, pada tanggal 25 Januari 2015, Kepala BNP2TKI melakukan pertemuan serta dialog dengan para TKI di 3 (tiga) tempat berbeda yaitu di Shelter KDEI Taoyuan untuk mewakili permasalahan TKI yang mengalami permasalahan serta ditampung sementara oleh KDEI Taipei, di kantor KDEI Taipei untuk mendengarkan aspirasi dari seluruh perwakilan organisasi di Taiwan dan untuk mengetahui kendala serta permasalahan yang dihadapi oleh TKI yang bekerja sebagai ABK maka pertemuan dilakukan di pelabuhan Ba Dao Zi, kota Keelung.

 

3.Dialog bersama ABK Indonesia di Pelabuhan Ba Dao Zi, Kota Keelung.

Tenaga Kerja Indonesia atau biasa disebut TKI adalah seseorang yang sudah memenuhi syarat untuk bekerja ke luar negeri, mendapatkan upah dan mempunyai waktu yang jelas (ada periode waktu). Salah satu sektor yang diminati oleh TKI adalah sektor perikanan, dimana TKI bekerja sebagai ABK Pelaut Perikanan dan bekerja di laut dalam wilayah territorial Taiwan. Dilihat dari status ketenagakerjaannya, TKI ABK Pelaut perikanan termasuk tenaga kerja Sektor Formal dengan gaji di sektor formal yaitu 19.273 NT. Sampai dengan bulan November 2014 jumlah TKI di sektor perikanan di Taiwan ini berjumlah sekitar 8.765 orang. Lokasi TKI pelaut perikanan tersebar di beberapa wilayah di Taiwan, yaitu Keelung, Kaohsiung, Pingtung sampai dengan kepulauan  Penghu, hampir seluruh lokasi pelabuhan di Taiwan terdapat TKI perikanan Indonesia.

Namun demikian walaupun termasuk dalam sektor formal, permasalahan yang ditemui relative lebih banyak dibanding dengan TKI yang bekerja di manufaktur. Hal ini antara lain dikarenakan, rata-rata ABK pelaut perikanan ini bependidikan SLTP bahkan ada beberapa yang tidak lulus SD dan buta huruf. Sedangkan pekerjaan sebagai pelaut perikanan sangat keras sehingga diperlukan kedisiplinan dan pengetahuan dari tenaga kerjanya.

Selain itu, banyak ditemui para ABK Pelaut Perikanan yang direkrut melalui system LG, dimana para ABK ini biasanya berlayar di wilayah perairan Internasional. Permasalahan yang ditemui terkait TKI Pelaut Perikanan LG antara lain besaran gaji yang mereka terima lebih kecil dibanding dengan para ABK pelaut perikanan yang berlayar di wilayah Taiwan. Rata-rata gaji untuk ABK LG ini pada kisaran U$ 300 – 400 atau dalam mata uang Taiwan setara dengan 10.000 NT.

Perekrutan pelaut perikanan LG ini tidak tercatat di Kementerian perburuhan Taiwan, hal ini dikarenakan TKI direkrut di Indonesia dan langsung ditempatkan serta diperkerjakan di luar wilayah Taiwan, sementara kapal tempat mereka bekerja adalah kapal berbendera Taiwan. Karena penempatan awalnya tidak berada di wilayah Taiwan, maka secara otomatis dari sisi ketenagakerjaan tidak tercatat di KDEI Taipei maupun MOL (Kementerian Tenaga Kerja Taiwan) dan ini sangat menyulitkan apabila mereka menemui permasalahan.

Dalam pertemuan, Sekretaris KOMPIT, Sdri. Dwi Tantri dalam kapasitas mewakili puluhan TKI pelaut perikanan yang hadir dalam acara dimaksud, menyampaikan bahwa sering mendapatkan keluhan-keluhan dari temen-temen TKI Pelaut Perikanan, mereka juga menyatakan meminta tolong agar bagi penempatan TKI Pelaut Perikanan dapat ditertibkan cara perekrutannya dan ditingkatkan kesejahteraannya. Secara rinci Tantri menjelaskan bahwa secara umum TKI ABK di Taiwan bekerja dengan jam kerja yang tidak jelas, waktu istirahat yang kurang, tidak layaknya akomodasi serta konsumsi yang disediakan oleh pemilik kapal, tidak adanya ganti rugi bagi TKI ABK atas kehilangan barang-barang pribadi, jika terjadi kecelakaan kapal tempat mereka bekerja dan banyak diantara mereka tidak dibayarkan gajinya oleh pemilik kapal, dikarenakan tidak berlayar karena faktor cuaca. Selain itu banyak dari TKI Pelaut Perikanan yang tidak bisa berenang karena mereka tidak dibekali BST/Basic Safety Training atau latihan dasar untuk bekerja di laut oleh PPTKIS yang ditempatkan, meminta agar KDEI Taipei bersama dengan Kepala BNP2TKI dapat segara menyelesaikan permasalahan - permasalahan ini".

Mendengar berbagai keluhan-keluhan tersebut, Kepala BNP2TKI merasa sangat prihatin dengan kondisi para TKI ABK di Taiwan yang saat ini sangat rentan exploitasi dan banyak masalah terutama terkait pemenuhan hak-hak dasar mereka. Sebelumnya di banyak kesempatan pertemuan baik dengan Kemenaker dan BNP2TKI, Bidang Ketenagakerjaan KDEI Taipei sering mengutarakan agar dilakukan perbaikan serta tata kelola penempatan bagi TKI Pelaut Perikanan yang ditempatkan di Taiwan. Kepala BNP2TKI, Nusron Wahid berkomitmen sekembali dari lawatan ini, bersama dengan Kemenaker RI akan menindaklanjuti aspirasi temen-temen dengan berencana untuk melakukan moratorium selama 6 bulan guna melakukan pemebenahan secara keseluruhan terkait sistem penempatan TKI ABK pelaut perikanan. 

Tenaga Kerja Indonesia atau biasa disebut TKI adalah seseorang yang sudah memenuhi syarat untuk bekerja ke luar negeri, mendapatkan upah dan mempunyai waktu yang jelas (ada periode waktu). Salah satu sektor yang diminati oleh TKI adalah sektor perikanan, dimana TKI bekerja sebagai ABK Pelaut Perikanan dan bekerja di laut dalam wilayah teritorial Taiwan. Dilihat dari status ketenagakerjaannya, TKI ABK Pelaut perikanan termasuk tenaga kerja Sektor Formal dengan gaji di sektor formal yaitu 19.273 NT. Sampai dengan bulan November 2014 jumlah TKI di sektor perikanan di Taiwan ini berjumlah sekitar 8.765 orang. Lokasi TKI pelaut perikanan tersebar di beberapa wilayah di Taiwan, yaitu Keelung, Kaohsiung, Pingtung sampai dengan kepulauan Penghu, hampir seluruh lokasi pelabuhan di Taiwan terdapat TKI perikanan Indonesia.

Namun demikian walaupun termasuk dalam sektor formal, permasalahan yang ditemui relatif lebih banyak dibanding dengan TKI yang bekerja di manufaktur. Hal ini antara lain dikarenakan, rata-rata ABK pelaut perikanan ini bependidikan SLTP bahkan ada beberapa yang tidak lulus SD dan buta huruf. Sedangkan pekerjaan sebagai pelaut perikanan sangat keras sehingga diperlukan kedisiplinan dan pengetahuan dari tenaga kerjanya.

Selain itu, banyak ditemui para ABK Pelaut Perikanan yang direkrut melalui system LG, dimana para ABK ini biasanya berlayar di wilayah perairan Internasional. Permasalahan yang ditemui terkait TKI Pelaut Perikanan LG antara lain besaran gaji yang mereka terima lebih kecil dibanding dengan para ABK pelaut perikanan yang berlayar di wilayah Taiwan. Rata-rata gaji untuk ABK LG ini pada kisaran U$ 300 – 400 atau dalam mata uang Taiwan setara dengan 10.000 NT.

Perekrutan pelaut perikanan LG ini tidak tercatat di Kementerian perburuhan Taiwan, hal ini dikarenakan TKI direkrut di Indonesia dan langsung ditempatkan serta diperkerjakan di luar wilayah Taiwan, sementara kapal tempat mereka bekerja adalah kapal berbendera Taiwan. Karena penempatan awalnya tidak berada di wilayah Taiwan, maka secara otomatis dari sisi ketenagakerjaan tidak tercatat di KDEI Taipei maupun MOL (Kementerian Tenaga Kerja Taiwan) dan ini sangat menyulitkan apabila mereka menemui permasalahan.

Dalam pertemuan, Sekretaris KOMPIT, Sdri. Dwi Tantri dalam kapasitas mewakili puluhan TKI pelaut perikanan yang hadir dalam acara dimaksud, menyampaikan bahwa sering mendapatkan keluhan-keluhan dari teman-teman TKI Pelaut Perikanan, mereka juga meminta tolong agar penempatan TKI Pelaut Perikanan dapat ditertibkan cara perekrutannya dan ditingkatkan kesejahteraannya. Secara rinci Tantri menjelaskan bahwa secara umum TKI ABK di Taiwan bekerja dengan jam kerja yang tidak jelas, waktu istirahat yang kurang, tidak layaknya akomodasi serta konsumsi yang disediakan oleh pemilik kapal, tidak adanya ganti rugi bagi TKI ABK atas kehilangan barang-barang pribadi, jika terjadi kecelakaan kapal tempat mereka bekerja dan banyak diantara mereka tidak dibayarkan gajinya oleh pemilik kapal, dikarenakan tidak berlayar karena faktor cuaca. Selain itu banyak dari TKI Pelaut Perikanan yang tidak bisa berenang karena mereka tidak dibekali BST/Basic Safety Training atau latihan dasar untuk bekerja di laut oleh PPTKIS yang ditempatkan, meminta agar KDEI Taipei bersama dengan Kepala BNP2TKI dapat segara menyelesaikan permasalahan - permasalahan ini".

Mendengar berbagai keluhan-keluhan tersebut, Kepala BNP2TKI merasa sangat prihatin dengan kondisi para TKI ABK di Taiwan yang saat ini sangat rentan eksploitasi dan banyak masalah terutama terkait pemenuhan hak-hak dasar mereka. Sebelumnya di banyak kesempatan pertemuan baik dengan Kemenaker dan BNP2TKI, Bidang Ketenagakerjaan KDEI Taipei sering mengutarakan agar dilakukan perbaikan serta tata kelola penempatan bagi TKI Pelaut Perikanan yang ditempatkan di Taiwan. Kepala BNP2TKI, Nusron Wahid berkomitmen sekembali dari lawatan ini, bersama dengan Kemenaker RI akan menindaklanjuti aspirasi temen-temen dengan berencana untuk melakukan moratorium selama 6 bulan guna melakukan pemebenahan secara keseluruhan terkait sistem penempatan TKI ABK pelaut perikanan.

Read more...

Monitoring TKI Bidang Konstruksi pada Proyek Tunnel Suhua Highway Jalur 9

Dalam rangka melakukan perlindungan bagi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Taiwan, Bidang Ketenagakerjaan KDEI Taipei pada hari Rabu tanggal 28 Januari 2015, melakukan monitoring keberadaan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang saat ini sedang mengerjakan proyek konstruksi pembangunan Tunnel Construction For Provincial Highway Jalur 9 di Suhua. Yang dikerjakan oleh perusahaan Kunsing Engineering Corporation, salah satu perusahaan konstruksi ternama di Taiwan. Proyek ini memperkerjakan TKI sebanyak 159 orang, untuk melakukan pekerjaan pengkawatan kerangka besi (Rebar) dan penyusunan/pemasangan papan cetak beton.

Dalam kegiatan monitoring ini dilakukan pembicaraan antara Kabid Ketenagakerjaan KDEI Taipei dengan perwakilan TKI, dari hasil pembicaraan yang dilakukan, perwakilan TKI menyatakan bahwa pihak perusahaan sangat memperhatikan keselamatan kerja dari TKI. Selain itu para TKI juga menyatakan bahwa selama bekerja tidak pernah ada permasalahan terkait gaji, perhitungan lembur serta hak lainnya yang diterima TKI.  Perwakilan TKI juga menyatakan harapan untuk dapat dilakukan perpanjangan masa kerja, saat kontrak kerja selama 3 tahun telah habis. Hal ini dikarenakan adanya perpanjangan masa pengerjaan proyek yang telah disetujui pemerintah Taiwan.

Kepada perwakilan TKI, Kabid Ketenagakerjaan KDEI Taipei juga menyampaikan jika terjadi disharmoni/permasalahan dengan perusahaan, diharapkan dapat diselesaikan secara baik dan KDEI Taipei siap untuk menjembatani penyelesaian permasalahan yang timbul. 

Dari pembicaraan dengan pihak perusahaan, pihak perusahaan menyatakan kepuasannya dengan hasil kerja dari TKI, contoh konkret dari kepuasan perusahaan, sampai dengan saat ini pihak perusahaan selalu dapat selalu memenuhi target capaian pengerjaan proyek.

Kepada Pihak perusahaan, Kabid Ketenagakerjaan KDEI Taipei menyampaikan agar pihak perusahaan memandang TKI sebagai aset dari perusahaan dan selalu memperhatikan keselamatan serta hak-hak TKI selama mereka bekerja.

Read more...

Pelatihan Pembuatan Cenchu Naicha bagi TKI

Dalam rangka melakukan Pembinaan/Exit Program bagi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Taiwan, KDEI di Taipei telah menyelenggarakan pelatihan pembuatan makanan/minuman olahan Chen Chu Nai Cha bagi TKI pada tanggal 18 Januari 2014 dengan bertempat di Caffé Dining Yang di Taipei dan diikuti oleh 25 orang, dimana jumlah tersebut melebihi dari kapasitas pelatihan yang seharusnya sebanyak 20 orang.

Adapun sebagai tenaga instruktur adalah Mr. Yang,  yang merupakan pemilik Dinning Yang Café, yang merupakan instruktur berpengalaman dalam melakukan pelatihan pengolahan minuman Chen Chu Nai Cha. 

Seluruh peserta yang berpartisipasi dalam pelatihan ini telah memahami bahasa mandarin, sehingga pengajar lebih banyak menggunakan bahasa mandarin dalam penyampaian materi.

Materi pelatihan yang diberikan adalah materi pembuatan Chen Chu Nai Cha serta minuman ringan lainnya yang hampir keseluruhan bahan dasarnya terdapat di Indonesia. 

Pelatihan seperti ini akan dilaksanakan secara berkelanjutan dan akan menjadi agenda regular tahunan kegiatan di bidang Ketenagakerjaan KDEI di Taipei. Dengan adanya Pembinaan/Exit Program ini diharapkan TKI yang berpartisipasi dapat melanjutkan serta mengembangkan keterampilan Chen Chu Nai Cha yang dimilikinya sebagai modal dalam berwirausaha bagi TKI pasca kembali ke daerah asalnya.

 

Read more...

Sarasehan Budaya bersama Emha Ainun Nadjib di Taichung

Pada tanggal 14 Desember 2014, KDEI Taipei yang dalam hal ini diwakili oleh Kepala Bagian Administrasi dan Kepala Bidang Tenaga Kerja menghadiri acara “Munajat TKI dan Sarasehan Budaya Indonesia Bersama Emha Ainun Najib” di Labor Park (Taman Shijia) Liangya District - Taicung.

Acara tersebut diselenggarakan oleh Ikatan Warga Muslim Indonesia Taiwan (IWAMIT) Kaoshiung, dan dibuka dengan sambutan dari Ketua Panitia, yang menyampaikan bahwa tujuan penyelenggaraan acara tersebut adalah, yang pertama untuk meningkatkan iman serta ketaqwaan para TKI, khsusnya yang berada di Taichung dan sekitarnya dan kedua untuk meningkatkan rasa nasionalisme, kebersamaan serta memperat ukhuwah islamiyah antar TKI.

Dilanjutkan dengan acara inti, yaitu sarasehan bersama Emha Ainun Najib atau yang popular dipanggil Cak Nun bersama Novia Kolopaking, yang inintinya mengajak para TKI untuk menjaga kerukunan dan saling menghormati, baik antar sesama TKI sendiri maupun dengan bangsa/warga negara lain yang ada di Taiwan, dan mengingatkan bahwa tujuan ke Taiwan adalah untuk meningkatkan kesejahteraan ekonominya.

Pada sesi akhir acara, pihak KDEI Taipei diberikan kesempatan untuk menyampaikan sambutan dan dilanjutkan dengan dialog kecil antara KDEI Taipei dengan para TKI yang ingin menyampaikan permasalahan, usulan maupun pertanyaan-pertanyaan.

Read more...

Anual Meeting ke-8 Bidang Ketenagakerjaan antara Indonesia dan Taiwan

Annual Meeting Bidang Ketenagakerjaan, antara Indonesia – Taiwan yang merupakan agenda tahunan untuk membahas berbagai isu dan permasalahan penempatan dan perlindungan TKI di Taiwan telah digelar di Lombok. Pada pertemuan ke-8 kali ini, Indonesia mendapat giliran sebagai tuan rumah, dan Lombok dipilih untuk menjadi tempat penyelenggaraanya dalam rangka turut mempromosikan Lombok sebagai salah satu destinasi wisata di Indonesia.

Annual Meeting Bidang Ketenagakerjaan ke VIII tersebut berlangsung di hotel Jayakarta Senggigi Lombok, tanggal 6-7 Desember 2014 yang diawali dengn sambutan dari Kepala BNP2TKI, Bapak Nusron Wahid sekaligus membuka acara secara resmi dengan pemukulan gong.

Delegasi Taiwan terdiri dari pejabat TETO Jakarta dan MOL - Ministry of Labor Taiwan yang dipimpin oleh Kepala TETO Jakarta Mr. Liang Jen Chang, sedangkan dari Indonesia terdiri KDEI Taipei yang dipimpin oleh Wakil Kepala KDEI Taipei Bapak Harsono Aris Yuwono. Hadir juga pada pertemuan tersebut beberapa perwakilan dari instansi terkait, yaitu Kementerian Tenaga Kerja, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Perdagangan dan BNP2TKI selaku pihak penyelenggara acara. 

Beberapa hal yang menjadi materi dan usulan pembahasan dari pihak Indonesia adalah perbaikan gaji bagi TKI, khususnya TKI sektor Informal, usulan pengalihan fee agency kepada majikan, upaya percepatan pengurusan jenazah TKI meninggal, mekanisme dokumen kepindahan TKI kepada majikan baru, hari libur dan cuti bagi TKI, peningkatan kualitas TKI melalui pelatihan, asuransi TKI dan perbaikan Perjanjian Kerja (PK). Disamping hal tersebut, beberapa usulan materi tambahan juga disampaikan oleh delegasi Indonesia berdasarkan arahan-arahan Presiden Joko Widodo melalui Kepala BNP2TKI, yaitu terkait cost structureagency fee untuk sektor formal, transaksi non tunai untuk biaya-biaya terkait TKI termasuk gaji, dan help desk bagi TKI.

 

Read more...

Exit Program KDEI Taipei: Pelatihan Pembibitan Sayur untuk TKI

Pada tanggal 2 November 2014, telah diadakan Pelatihan Pembibitan Sayur bagi TKI sebagai bagian dari Exit Program KDEI Taipei. Pelatihan yang bertempat di Yangmei ini akan kembali dilanjutkan pada tanggal 9 November 2014.

Adapun tujuan diadakannya pelatihan ini adalah memberikan pengetahuan tentang teknik-teknik pembibitan sayur kepada TKI, agar TKI memiliki kemampuan dasar cara bercocok tanam sayur dengan benar. Pelatihan ini diawali dengan memberikan teori-teori dasar pembibitan sayur, kemudian dilanjutkan dengan pengenalan lapangan, dan diakhiri dengan praktek langsung pembibitan oleh TKI. Secara keseluruhan, TKI mengikuti acara pelatihan ini dengan antusias dan sungguh-sungguh.

Read more...

Pelatihan Pelayanan, Pengaduan dan Penanganan Permasalahan TKI bagi Lokal Staff, Satgas, dan TKS

Meningkatnya jumlah TKI di Taiwan (30 September 2014, mencapai 224.782 orang), juga membawa implikasi peningkatan jumlah (s.d Oktober terdapat 437 kasus dan hanya mampu diselesaikan sebanyak 236 kasus) dan dinamika permasalahan TKI yang dilaporkan ke KDEI Taipei, untuk itu diperlukan peningkatan sumber daya yang handal agar mampu menangani permasalahan TKI dengan lebih baik. 

Terkait dengan hal tersebut diatas, bertempat di Aula Serba Guna KDEI Taipei pada tanggal 25 - 26 Oktober 2014, KDEI Taipei bekerjasama dengan BNP2TKI dan Pusat Mediasi Indonesia melaksanakan kegiatan pelatihan pelayanan pengaduan, dan penanganan permasalahan TKI bagi lokal staff, Tim Satgas, serta TKS. 

Kegiatan pelatihan tersebut dihadiri Deputi Perlindungan BNP2TKI, Ibu Lisna Y. Poeloengan dan dibuka secara resmi oleh Kepala KDEI Taipei, Bapak Arief Fadilah. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa pelatihan ini merupakan kesempatan yang baik bagi lokal staff, Satgas dan TKS karena mereka adalah ujung tombak KDEI dalam membantu menyelesaikan permasalahan TKI yang ada di Taiwan, terlebih dengan adanya laporan dari MOL (Ministry of Labor) Taiwan, jumlah kasus yang ditangani oleh 1955 yang merupakan pusat pelayanan pengaduan TKA mengalami penurunan sekitar 40 - 50% dan hal tersebut berbalik dengan data yang ada di KDEI Taipei yang mana jumlah kasus yang diterima oleh KDEI justru mengalami peningkatan.

Hal tersebut mempunyai makna bahwa satu sisi membuktikan bahwa KDEI Taipei telah mendapatkan kepercayaan lebih baik dari TKI, namun disisin lain juga merupakan tantangan ke depan yang harus dihadapi KDEI dengan keterbatasan sumber daya yang ada. Untuk itu, pelatihan seperti ini menjadi sangat penting dan strategis. 

Kegiatan pelatihan ini telah diikuti oleh 10 (sepuluh) orang lokal staff dan 23 orang anggota Satgas dan TKS yang berasal dari berbagai wilayah di Taiwan, sedangkan hadir sebagai narasumber adalah Direktur Pelayanan Pengaduan BNP2TKI Bapak Muhammad Syafrie serta Bapak Fahmi Shahab yang merupakan Direktur Pusat Mediasi Indonesia. 

 

Read more...

Eulis Komariah, TKI asal Bandung, Raih 3 Medali Emas dan 1 Medali Perak di Kejuaraan Taichi Dunia

Eulis Komariah, seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Bandung ini berhasil membuktikan prestasinya di Kejuaraan Dunia Tai Chi di Taipei. Eulis yang juga terdaftar sebagai mahasiswa Universitas Terbuka (UT) Taiwan bidang studi Bahasa Inggris Penerjemah ini berhasil menyabet 4 medali sekaligus (3 emas, 1 perak) di laga The Fifth World Cup Tai Chi Chuan Championship 2014 dengan mengalahkan ratusan peserta lain dari puluhan negara yang merupakan atlet taichi profesional.

Pada tahun 2012, Eulis pernah mengharumkan nama Indonesia setelah sebelumnya pada tahun 2012 di kejuaraan serupa dengan mendapatkan medali perak.

Di pertandingan Tai Chi yang digelar pada tanggal 18-19 Oktober 2014 di Taipei Arena tersebut, Eulis menjadi satu-satunya atlet Tai Chi yang mewakili Indonesia. Eulis mengikuti 4 cabang Tai Chi sekaligus, dan keempat-empatnya mendapatkan medali. Tiga emas dan satu perak.

Read more...

KDEI Taipei Menyelenggarakan Shalat Idul Adha 1435H bersama WNI di Taiwan

Meskipun pengumuman dari Mesjid Besar Taipei, bahwa Hari Raya Idul Adha 10 Dzulhijjah 1435 H di Taiwan jatuh pada hari Sabtu, bertepatan dengan tanggal 4 Oktober 2014. Namun, Sholat Idul Adha yang diselenggarakan atas kerjasama KDEI di Taipei dengan PCI-NU Taiwan tahun ini dilangsungkan pada hari Minggu tanggal 5 Oktober 2014 di pelataran Taipei Main Station (TMS), Taiwan.

Membludaknya jumlah jamaah pada sholat Idul Adha kali ini disebabkan karena pelaksanaan sholat Idul Adha bertepatan dengan hari Minggu, yang mana sebagian besar pekerja Indonesia di Taiwan dapat keluar untuk berlibur, sehingga Sholat Idul Adha sendiri dilaksanakan sebanyak tiga gelombang hal tersebut dikarenakan banyaknya umat Islam yang ingin melaksanakan sholat Idul Adha.

Bertindak sebagai khotib dalam Sholat Idul Adha tahun ini adalah Prof. Dr. Moch. Ali Aziz yang merupakan guru besar di Universitas Islam Negeri (UIS) Sunan Ampel Surabaya. Tema yang diambil dalam khotbah tersebut adalah “Habis gelap terbitlah terang” setelah kesulitan akan hadir kebahagiaan. Dalam khotbahnya, Prof. Dr. Moch. Ali Aziz menyampaikan bahwa segala sesuatu yang terjadi di atas dunia ini adalah untuk sebuah alasan. Seperti halnya kedatangan muslim Indonesia di Taiwan adalah juga dengan alasan agar dapat memberikan cahaya keimanan di Taiwan. Pembangunan beberapa masjid yang merupakan prakarsa dari para Tenaga Kerja Indonesia atau Warga Negara Indonesia sudah menjadi bukti bahwa betapa Allah S.W.T telah mempersiapkan sebuah sekenario yang indah untuk pertumbuhan umat muslim di bumi Formosa ini.

Ada empat hal yang harus dilakukan agar menjadikan hidup kita secerah matahari, diantaranya yang pertama adalah jangan pernah meninggalkan sholat 5 (lima) waktu meskipun dalam kondisi sesibuk apapun kita harus tetap menjaga sholat lima waktu tersebut tidak tertinggal.  Yang kedua agar kita bisa membahagiakan kedua orang tua kita, dan yang ketiga agar kita selalu bersyukur dengan nikmat yang Allah berikan. Sifat syukur tersebut ditunjukkan dengan banyaknya amal-amal berbuatan yang selalu meningkat, serta yang keempat adalah agar kita selalu meminta doa dan ridho dari kedua orang tua kita karena bagaimanapun juga doa kedua orang tua adalah sebaik-baiknya doa yang didengarkan oleh Allah S.W.T.

Sebagai penutup khotbah, Prof. Dr. Moch. Ali Aziz berpesan kepada jamaah sholat Idul Adha agar jangan pernah sekali-kali mengeluh dengan kondisi yang sedang dihadapinya. Seberat apapun cobaan yang telah menimpa kita agar kita selalu ikhlas dan ridho dengan ketentuan yang Allah berikan kepada kita. Agar kita selalu meyakini bahwa setiap cobaan dan ujian yang datang kepada kita adalah cara Allah untuk membiarkan iman kita selalu terjaga.

Acara sholat Idul Adha ditutup dengan silaturahmi antara KDEI di Taipei dengan para jemaah sholat Idul Adha yang hadir pada saat itu.

Read more...

Business Gathering tentang Peluang Kewirausahaan di Bidang Waralaba

Sebagai rangkaian kegiatan dan partisipasi pada pameran “2014 Taiwan International Chain and Franchise Exhibition” pada tanggal 28 September 2014, telah diselenggarakan Business Gathering dengan tema ”Peluang Kewirausahaan Waralaba bagi Masyarakat Indonesia di Taiwan” bertempat di Auditorium Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia.

Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dan pengetahuan tentang peluang usaha dengan sistem waralaba kepada Warga Negara Indonesia yang berada di Taiwan, khususnya para Buruh Migran Indonesia (BMI) dalam rangka exit program sehingga para BMI punya bekal kewirausahaan sekembalinya ke Tanah Air nantinya.

Sebagai nara sumber adalah ke 6 perusahaan Franchise Indonesia yang berpartisipasi pada “2014 Taiwan International Chain and Franchise Exhibition” dan satu orang pengusaha Indonesia yang sukses menjalankan bisnisnya di Taiwan yaitu CEO Indosuara Group Bapak Joy Simpson. Kegiatan Gathering ini dihadiri oleh 157 orang yang terdiri dari para mahasiswa, pelajar dan Buruh Migran Indonesia (BMI).

Kegiatan ini, mendapat sambutan yang positif dari para peserta, hal ini terlihat banyaknya yang mengajukan pertanyaan kepada para nara sumber dan pada akhir kegiatan telah berhasil ditanda tangani  kontrak usaha waralaba dengan para BMI sebanyak 6 buah yaitu 2 buah dengan PT. Masyroom Factory Indonesia untuk lokasi di Bandar Lampung dan Cilacap, dan 4 buah dengan PT. D’Goen untuk lokasi di Lampung, Cilacap (2 buah) dan Bandung.

Read more...
Subscribe to this RSS feed

TAUTAN LAIN

Kontak Kami

6F, No. 550, Rui Guang Road, Neihu District, Taipei, 114, Taiwan, ROC
Phone : (02) 87526170
Fax : (02) 87523706

Email: ieto[at]ms8.hinet.net

DMC Firewall is a Joomla Security extension!